facebooklogocolour

Gerakan Buruh

Sosialisme untuk Buruh Migran

Buruh-buruh Asia, secara lintas-negara maupun secara langsung lewat penempatan buruh migran, dibenturkan satu sama lain oleh kapitalis yang berlomba-lomba menurunkan gaji buruh demi profit. Bila gaji buruh Indonesia terlalu tinggi, pemodal – asing dan bahkan nasional – akan mengancam memindahkan pabrik mereka ke negeri yang gaji buruhnya lebih rendah. Bila gaji buruh lokal terlalu tinggi, kapitalis lalu mengimpor langsung buruh migran yang gajinya lebih rendah. Kenyataan ini mengharuskan perspektif internasional bagi perjuangan buruh. Dimulai dengan pembentukan kerja sama dan aliansi antara buruh-buruh Asia, ini harus bermuara pada pembentukan perspektif bersama bahwa kapitalisme harus ditumbangkan dengan perebutan kekuasaan secara revolusioner. Hanya dengan perspektif sosialis inilah buruh migran dapat terbebaskan dari penindasan.

Buruh Migran dan Kekuatan Politiknya

Tulisan ini tidak sedang menyuguhkan sebuah apresiasi yang underestimate atau tidak pula akan memberikan sebuah prognosis yang overestimate atas kekuatan buruh migran. Tetapi berdasar pada fakta riil, meskipun kondisi obyektif buruh migran membuatnya lebih lemah dibandingkan buruh di dalam negeri, mereka memiliki potensi politik yang strategis.

Setelah Getok Monas, Lalu Kemana?

Setelah eforia dari Getok Monas ini sedikit berlalu, dan debu yang dilontarkan oleh derap langkah buruh sudah sedikit mereda, saatnya kita melihat ke sekeliling kita untuk sejenak, untuk melihat apa-apa yang dapat kita panen dan apa yang harus kita tuai untuk ke depan. Dengan bekal ini, kita bawa tatapan kita ke depan, menyongsong gebrakan buruh yang tak ayal pasti akan lebih besar lagi.

Bergerak Getok Monas: Buruh Butuh Partai Politik

Tidak ada jalan lain untuk memperkuat posisi politik kelas buruh dalam percaturan politik di negeri ini selain segera mendirikan partai buruh. Kaum buruh harus tidak boleh lagi dijadikan komoditas politik bagi partai-partai borjuis. Buruh akan terus menjadi obyek tipu-tipu jika wacana pembentukan partai politik ini tidak segera dipropagandakan secara luas dan sistematis.

Mogok Umum Nasional Pertama dalam 50 Tahun: Apa artinya?

Tiga Oktober akan kita saksikan sebuah peristiwa penting di dalam gerakan buruh Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, buruh akan melakukan mogok umum nasional yang diperkirakan akan melibatkan 2 juta buruh. Ini akan membuka sebuah babak baru di dalam perjuangan kelas di Indonesia

Melihat May Day 2012 dan Makna Majelis Pekerja Buruh Indonesia

Kapitalisme sedang memasuki krisis yang akut. Indonesia tidak imun dari ini. Tuntutan-tuntutan reforma atau normatif semata bahkan sudah tidak cukup lagi sebenarnya. Ini karena kapitalisme sudah tidak bisa lagi memberikan reforma kepada buruh.  Manifesto MPBI mengandung tuntutan-tuntutan yang memang dikehendaki oleh buruh dan rakyat tertindas lainnya. Namun ia kurang satu hal: yakni bagaimana memenuhi tuntutan-tuntutan reforma tersebut di saat kapitalisme sedang sakit keras.

Sejarah Singkat May Day

Sejarah May Day tidak terlepas dari perjuangan klas buruh dalam menuntut 8 jam kerja. Abad ke-19 adalah periode di mana klas buruh diperhadapkan pada kenyataan bahwa dari 24 jam sehari, mereka rata-rata bekerja 18 sampai 20 jam. Tak pelak lagi bahwa tuntutan yang diajukan adalah memperpendek jam kerja. Perjuangan menuntut 8 jam kerja ini diawali oleh kaum buruh di Amerika Serikat  pada tahun 1884, yang berbuntut pada penyerangan yang dilakukan oleh negara dan alat kekerasannya.

Buruh Memimpin

Kelas buruh adalah satu-satunya kelas yang mampu memimpin perjuangan rakyat menuju sosialisme. Banyak yang berusaha menyangkal ini, tetapi sejarah berkata lain. Sampai saat ini belum ada satupun kelas, atau satupun sektor dari lapisan masyarakat tertindas, yang telah memainkan peran sebesar peran kelas buruh di dalam sejarah perjuangan kita melawan kapitalisme. Yah, memang benar kelas buruh telah mengalami kegagalan berulang kali dalam mencapai sosialisme. Tetapi perjuangan mereka adalah yang paling megah dan pencapaiannya adalah yang paling besar. Tidak ada satupun kelas atau sektor lain (tani, nelayan, pelajar, intelektual, borjuasi kecil, kaum miskin kota) yang pernah sedekat kaum buruh dalam melangkah ke sosialisme.

Editorial: Buruh Berkuasa Rakyat Sejahtera

Dalam masyarakat kapitalis ini, dua kelas paling dominan adalah pemilik modal dan buruh. Kelas-kelas dan sektor-sektor tertindas lain, seperti tani, nelayan, dan miskin kota, walaupun eksis dan bahkan jumlahnya lebih besar daripada kelas buruh, tidaklah memiliki posisi sosial dan ekonomi yang menentukan dalam masyarakat seperti halnya buruh. Sejarah pun telah menunjukkan bahwa dalam beberapa kesempatan, buruhlah yang memimpin penumbangan kapitalisme. Kelas dan sektor tertindas lain dapat memainkan peran besar dalam melawan kapitalisme, tetapi yang akhirnya dapat menuntaskan perlawanan ini adalah buruh.

Jembatan dari Upah ke Politik

Sering kita mendengar perdebatan di antara aktivis buruh mengenai tuntutan politik di dalam gerakan buruh. Di satu pihak, ada mereka yang mengatakan bahwa gerakan buruh tidak boleh dimasuki tuntutan politik karena buruh tidak paham ini. Sementara, di lain pihak, ada mereka yang mendorong agar gerakan buruh mengadopsi tuntutan politik di dalam perjuangannya. Tuntutan ekonomi atau tuntutan politik? Begitu kiranya pertanyaan yang diajukan.

Bergabunglah dengan Perhimpunan Sosialis Revolusioner!

Form Pendaftaran

Form by ChronoForms - ChronoEngine.com