Hari ini jutaan buruh melakukan aksi serentak di seluruh Indonesia. Di wilayah Jabodetabek, hampir seluruh buruh turut serta dalam aksi besar ini. Bahkan para buruh yang sudah turun ke jalan segera mendatangi pabrik-pabrik di sekitarnya yang masih melakukan aktifitas. Tidak hanya mendatangi, tetapi menggedor pintu-pintu pabrik yang masih tertutup.

Ini momentum yang luarbiasa. Teriakan massa menggema di jalan-jalan dan kemudian masuk ke telinga para pengusaha dan para pejabat pembuat kebijakan. Apindo, organisasinya para bos, sepertinya, yang pertama-tama terbakar telinganya. “Demonstrasi buruh berpotensi menganggu iklim investasi di Indonesia,” demikian, kurang-lebihnya, ucap ketua Apindo,  Sofjan Wanandi.

Keberanian dan antusiasme buruh dalam aksi serentak ini patut diberi apresiasi yang tinggi. Menurut pengamatan kawan-kawan Militan di Surabaya, yang terlibat dalam aksi di sejumlah titik di Surabaya, bahwa selain berdemonstrasi, massa buruh juga melakukan sweeping di pabrik PT Maspion I, di Sidoarjo. Massa juga memblokir Jl. Raya Aloha dan terminal Purabaya Surabaya, di Waru. Keberanian dan heroisme buruh kali ini, menurutnya, akan menjadi titik balik bagi buruh untuk segera membangun organisasi politik buruh yang kuat.

Di Bekasi aksi buruh berada di banyak titik, demikian ungkap Rokaya, anggota Militan Jakarta yang terlibat dalam aksi di Bekasi. Beberapa kelompok buruh dari berbagai organisasi berkumpul di pintu keluar kawasan, sementara yang lainnya berkumpul di tiap-tiap pabrik tempat mereka bekerja. Hal penting untuk diperhatikan oleh buruh adalah bahwa ketika mereka mengorganisir diri, mereka sedang mengkonstruksi kekuatan dan keberanian. Keberanian tersebut merupakan posisi tawar yang bisa memaksa bos-bos mereka untuk menuruti kemauan mereka. Lebih jauh, pengorganisiran diri ini juga melatih buruh dalam merencanakan suatu strategi, cara, langkah, bahkan manuver yang tepat ketika berhadapan dengan bos-bos mereka. Hal senada juga disampaikan oleh Yohana, anggota Militan Jakarta yang terlibat dalam aksi di sekitar Tugu Tani, bahwa aksi serentak ini merupakan langkah awal yang tepat untuk mengkonsolidasikan kekuatan buruh dalam skala besar.

Fakta heroik yang terungkap di atas merupakan fase awal dari kesadaran kaum buruh untuk membangun kekuatan politik. Pada analisis terakhir, buruh butuh partai politik. Karena tanpa partai politik yang dibangun sendiri oleh buruh, momentum-momentum revolusioner seperti ini akan selalu disabotase oleh demagog-demagog dari partai-partai borjuis. Dengan terbangunnya medium politik buruh, maka pemogokan umum akan menyentuh masalah pengambil-alihan kekuasaan oleh buruh.

Peristiwa penting ini harus segera dikonsolidasikan dengan jelas. Semua elemen revolusioner harus mendukung upaya-upaya pembentukan partai buruh. Sikap-sikap sektarian, yakni sikap yang masih memandang warna-warni arus ideologi dan lantas memisahkan diri untuk menjaga kemurnian ideologi masing-masing, harus segera disingkirkan. Intervensi intensif dari elemen-elemen revolusioner akan menyelamatkan kaum buruh dari aksi obyektifikasi para birokrat serikat-serikat buruh; juga, menyelamatkan kaum buruh dari para pencuri momentum untuk motif-motif personalnya.

Buruh bergerak, siapa yang bisa melawan? Yah, dalam satu tahun terakhir kekuatan buruh berhasil unjuk diri. Mogok besar di bekasi beberapa waktu lalu, juga aksi bersama menolak kenaikan harga BBM, telah menunjukkan bahwa kekuatan buruh tidak mampu untuk dilawan. Ini, selain mempertegas postulat-postulat Marxis—bahwa buruh adalah elemen yang paling revolusioner—juga meruntuhkan sketsa teoritik para teoritisi sosial yang mengaburkan potensi kekuatan buruh. Namun, heroisme seperti ini pada akhirnya akan sia-sia jika wadah politik buruh tak kunjung terbangun.

Perkiraan Apindo, sebagaimana diungkap oleh Sofjan Wanandi, kerugian pabrik-pabrik bisa bernilai miliaran ketika aksi buruh seperti ini digelar. Tetapi Sofjan Wanandi bergegas menyalahkan lembaga outsourcing. "Ada outsourcing yang baik, ada yang tidak. Yang tidak baik itu yang harus ditindak," ucapnya.

Sudah bisa ditebak, para pengusaha akan selalu mencari kambing hitam yang berfungsi sebagai tempat untuk menyembunyikan sifat-sifat eksploitatifnya. Kali ini lembaga outsourcing yang sedang tertimpa batu; yang sedang difungsikan sebagai kambing hitam. Yach, para pengusaha memang akan terus mencari jawaban-jawaban yang masuk akal untuk, selanjutnya, menciptakan “pemakluman-pemakluman” baru.

Tidak hanya ketua Apindo, Cak Imin, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, juga terlihat panik. Ia segera mendesak kepala daerah untuk proaktif dalam penentuan upah minimum yang layak bagi buruh. Tapi kaum buruh sudah tahu, bahwa ucapan Cak Imin hanyalah retorika belaka. Bukankah karena integrasi yang kuat antara pemerintah dan pengusaha yang menyebabkan kesengsaraan bagi buruh selama ini?

Akhirnya, tidak ada jalan lain untuk memperkuat posisi politik kelas buruh dalam percaturan politik di negeri ini selain segera mendirikan partai buruh. Kaum buruh harus tidak boleh lagi dijadikan komoditas politik bagi partai-partai borjuis. Buruh akan terus menjadi obyek tipu-tipu jika wacana pembentukan partai politik ini tidak segera dipropagandakan secara luas dan sistematis. Kaum buruh tidak bisa berharap dari kebaikan kelas penindas. Kaum borjuis tidak akan pernah membagi-bagikan roti-rotinya kepada kaum buruh. Dengan adanya partai politik, kaum buruh akan mampu merebut roti-roti itu dengan paksa!

Hidup Buruh!