cina kapitalisSejak runtuhnya Uni Soviet dan restorasi kapitalisme di negeri-negeri Sosialis Eropa Timur pada 1989-91, semua orang masih terus menunggu jawaban atas pertanyaan ini: apakah China akan mengikuti nasib yang serupa? 30 tahun telah berlalu, dan tidak ada keruntuhan ekonomi dan politik seperti yang terjadi di Rusia, Yugoslavia, dan negeri-negeri Blok Timur Eropa. Partai PKC masih berkuasa dan setiap harinya menyatakan bahwa China masih melaju di atas rel pembangunan Sosialisme dengan karakteristik Tiongkok.

Kereta api cepat berlalu-lalang tiada henti ke seluruh penjuru China. Gedung-gedung pencakar langit tumbuh seperti jamur. Mobil-mobil mewah memadati jalan. Mal-mal yang gemerlap penuh dengan konsumen. Sosialisme ala Tiongkok tampaknya berhasil. Tetapi penampakan dari luar yang impresionistik bukanlah panduan yang baik untuk membawa kita ke kebenaran. Proses-proses yang nyata biasanya berlangsung di bawah permukaan, dan tugas kita adalah mengungkapnya secara ilmiah.

Berikut lima alasan mengapa China hari ini telah menjelma menjadi negeri kapitalis:

  1. Gubuk di seberang Istana

Argumen yang biasanya sering dikemukakan oleh pembela tesis “Sosialisme ala Tiongkok” adalah bagaimana ratusan juta rakyat China kini telah terangkat dari garis kemiskinan. Semua statistik membenarkan ini, dari pendapatan per kapita sampai tingkat konsumsi dan kualitas kehidupan. Tetapi ini saja tidak memberi kita gambaran sepenuhnya. Dalam sejarah kapitalisme, selama periode boom ekonomi tertentu akan ada perbaikan taraf kesejahteraan rakyat. Tetapi ini tidak mengubah esensi moda produksi kapitalisme.

Esensi dari penindasan kapitalisme terletak dalam praktik eksploitasi, dimana nilai yang dihasilkan oleh pekerja sebagian besar dirampas oleh pemilik modal, sehingga menciptakan jurang kekayaan yang semakin besar antara mayoritas pekerja dan segelintir kapitalis. Inilah yang terjadi di China hari ini selama 30 tahun terakhir.

Secara nominal (jumlah uang yang diterima) dan riil (jumlah barang yang bisa dibeli), pendapatan pekerja China meningkat. Tetapi upah secara relatif telah menurun, dalam kata lain ada penurunan porsi upah dari total komoditas yang dihasilkan oleh buruh itu sendiri. Ini berarti porsi laba yang disedot oleh pemilik modal meningkat. Sejumlah indikator dari proses penurunan upah relatif ini telah tercatat. Porsi upah buruh sebagai persentase Produk Domestik Bruto menurun dari 51,4% pada 1995 menjadi 43,7% pada 2008.[1] Ada jurang yang semakin besar antara pertumbuhan produktivitas dan upah yang diterima buruh. Dari periode 2000 sampai 2012, sementara upah buruh meningkat 8,2% per tahunnya, produktivitas buruh meningkat 9,6% per tahunnya, dan jurang perbedaan ini semakin meluas seperti yang bisa kita lihat di grafik di bawah.[2]

Grafik pertumbuhan produktivitas vs upah buruh ChinaKenaikan upah dan perbaikan taraf kesejahteraan buruh oleh karenanya tidaklah otomatis berarti tidak ada eksploitasi kapitalis. Ini telah dijelaskan oleh Marx dalam karya pentingnya, Kerja Upahan dan Kapital:

“Sebuah rumah bisa saja besar atau kecil; selama rumah-rumah di sekitarnya sama kecilnya, rumah ini memuaskan semua persyaratan sosial sebagai tempat tinggal. Tetapi bila dibangun sebuah istana di samping rumah yang kecil ini, maka rumah kecil ini akan menyusut menjadi gubuk. Rumah kecil ini kini memperlihatkan bahwa penghuninya tidak memiliki kedudukan sosial sama sekali yang bisa dipertahankannya, atau kedudukan sosial yang sangat tidak signifikan. Dan setinggi apapun rumah kecil ini menjulang tinggi seturut dengan melajunya peradaban, selama istana di sebelahnya menjulang pula dengan kecepatan yang sama atau bahkan dengan lebih cepat, maka sang penghuni rumah kecil akan selalu menemukan dirinya semakin tidak nyaman, semakin tidak puas, dan semakin merasa sesak di kungkungan empat temboknya.”

Hari ini, banyak buruh China yang bisa menabung untuk jalan-jalan sekeluarga ke Bali, sesuatu yang hampir mustahil 20 tahun yang lalu. Tetapi, tamasya ini kehilangan signifikansi sosialnya ketika ada Jack Ma yang bisa membeli tiket untuk tamasya ke luar angkasa. Dan ini membawa kita ke alasan ke-2.

  1. Miliarder-Miliarder Baru

Pada 1999, di seluruh daratan China tidak ada satu orang pun yang memiliki aset lebih dari 1 miliar dolar AS. Dua puluh tahun kemudian, dalam waktu kurang dari satu generasi saja, China memiliki 879 miliarder.[3] Sebut saja Jack Ma, pemilik Alibaba yang menempati peringkat pertama dengan total kekayaan US$59 miliar; atau di peringkat dua, Pony Ma, pendiri dan CEO Tencent yang mengantongi kekayaan US$ 57,4 miliar. Sejak 2015, jumlah miliarder China telah melampaui Amerika Serikat, pusat kapitalisme dunia.

Tidak hanya itu saja, segelintir miliarder ini mengendalikan total kekayaan nasional yang luar biasa besar. 1 persen orang terkaya memiliki lebih dari sepertiga total kekayaan China, sementara 25 persen lapisan termiskin hanya memiliki 2 persen saja.[4] Ketimpangan yang serupa kita saksikan di semua negeri kapitalis. Data ketimpangan ini dari tahun 2015, dan dalam 5 tahun saja yang kaya telah bertambah kaya. Selama pandemi, total kekayaan 400 orang terkaya di China melonjak sebesar 64%, dari US$1,29 triliun menjadi US$2,11 triliun, yang setara dengan dua kali lipat GDP Indonesia.[5] Akan sulit membayangkan kalau mayoritas buruh dan tani China juga menikmati lonjakan kekayaan sebesar itu selama pandemi.

  1. PKC sebagai klub birokrat berprivilese, pengejar karier, dan kapitalis

Setelah menjabarkan data di atas mengenai ketimpangan kekayaan yang besar ini, petinggi Partai Komunis China akan mencerahkan kita dengan teori “Sosialisme ala Tiongkok” mereka. Intinya, PKC tengah memandu perkembangan kapitalisme agar nantinya dapat mewujudkan Komunisme, sebuah masyarakat tanpa kelas. Para miliarder di atas, menurut teori ini, ada di bawah kendali PKC, dan nantinya mereka – entah dengan satu cara atau cara lain, di masa depan yang belum ditentukan kapan – akan menjadi Sosialis, mendistribusikan kekayaan mereka ke rakyat luas, dan dengan sukarela melikuidasi diri mereka sebagai kelas.

Bahkan, banyak sekali miliarder di atas yang adalah Komunis. Jack Ma adalah anggota Partai. Lebih dari 90% dari 1000 orang terkaya di China adalah anggota PKC.[6] Sejak 2001, PKC memperbolehkan kapitalis untuk masuk jadi anggota. Mungkin bagi pembela teori “Sosialisme ala Tiongkok”, ini berarti PKC punya kendali atas para kapitalis ini. Tetapi sesungguhnya yang terjadi adalah sebaliknya, bahwa kepentingan kelas kapitalis inilah yang mengendalikan PKC.

Sudah jadi rahasia umum bahwa petinggi PKC, dari yang paling tinggi di Politbiro sampai sekretaris tingkat daerah, telah meraup kekayaan yang besar sejak China membuka ekonominya ke pasar kapitalis. Lewat posisi mereka yang strategis di dalam pemerintah, dengan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme, mereka memperkaya diri mereka, keluarga dan teman-teman dekat mereka. Sektor-sektor publik diarahkan sedemikian rupa untuk membesarkan sektor swasta, dan proses ini tidaklah unik. Dalam sejarah kapitalisme, kelas kapitalis kerap menggunakan pemerintah dengan BUMN-BUMN-nya demi kepentingan menopang dan membesarkan sektor privat.

Mungkin ada yang membayangkan, karena para kapitalis ini telah “dididik” dengan gagasan Marx dan Engels oleh PKC, nantinya mereka akan menggunakan kekayaan mereka untuk membangun Komunisme China. Tetapi gagasan utopis ini telah dijawab oleh Marx dan Engels sejak awal. Marx dan Engels membangun fondasi teori perjuangan kelas mereka dengan membantah gagasan kaum Sosialis Utopis yang membayangkan kalau Sosialisme bisa tercapai dengan menjelaskan keunggulan sistem Sosialisme kepada kaum kapitalis. Bila kaum kapitalis bisa diyakinkan secara intelektual dan moral akan superioritas sistem sosialisme dibandingkan kapitalisme, maka mereka akan melepaskan kepentingan ekonomi kelas mereka demi terciptanya masyarakat tanpa kelas yang adil dan makmur. Persetan dengan pertentangan kelas dan revolusi.

PKC mungkin saja awalnya diisi oleh manusia-manusia yang percaya sepenuhnya pada cita-cita Sosialisme. Tetapi mereka adalah manusia yang kesadarannya ditentukan oleh keberadaan sosial mereka. Logika pasar bebas, dengan tekanan ekonominya yang mendikte relasi-relasi sosial yang ada, telah merasuki seluruh sendi masyarakat China. Partai Komunis China yang didirikan 100 tahun yang lalu pada 1921, yang awalnya menghimpun kaum revolusioner yang paling berani, paling siap berkorban, dan hidupnya bersahaja, kini telah menjelma menjadi klub yang penuh dengan birokrat berprivilese, pengejar karier, dan kapitalis. Sosialisme dengan karakteristik China tidak lain adalah mereka memperkaya diri mereka dengan memeras keringat buruh dan tani.

  1. Absennya Internasionalisme

PKC lahir 100 tahun yang lalu pada 1921, dan kelahirannya dipicu oleh gaung kemenangan Revolusi Oktober 1917. Pada kenyataannya, kemenangan proletarian Rusia bertanggung jawab atas lahirnya hampir semua Partai Komunis. Revolusi Oktober adalah peristiwa historis yang dampaknya menembus sekat-sekat nasional yang sempit. Ini karena Internasionalisme mengakar kuat dalam Sosialisme dan keduanya tak terpisahkan.

Segera setelah kemenangan Revolusi Oktober, Lenin dan kaum Bolshevik tidak membuang-buang waktu untuk memulai persiapan pendirian Internasional Ketiga (Komunis Internasional), yang dikumandangkan pada 2 Maret 1919. Ini karena Lenin melihat Revolusi Oktober sebagai langkah pertama dari Revolusi Sosialis sedunia.

Walaupun Soviet yang muda ini ekonominya hancur lebur akibat Perang Dunia dan digempur dari luar dan dalam oleh kekuatan reaksioner selama Perang Sipil (1918-1921), Lenin dan Partai Bolshevik tetap membaktikan sumber daya yang besar untuk mendirikan dan membangun Internasional Ketiga. Tujuan Komunis Internasional adalah memastikan agar di setiap bangsa lahir Partai Komunis yang dapat memimpin proletariat dalam melawan dan menumbangkan kapitalisme serta feodalisme di seluruh dunia. Kemenangan Sosialisme sedunia merupakan tujuan utama Lenin.

Yang dilakukan oleh Lenin ini sesungguhnya hanya kelanjutan dari apa yang telah dimulai oleh Marx dan Engels. Sedari awal mereka telah membaktikan diri mereka untuk membangun Internasional Pertama (1864-72) dan Internasional Kedua (1889-1914). Marxisme tanpa Internasionalisme bukanlah Marxisme sama sekali.

Mari kita bandingkan ini dengan PKC. Bila PKC masih merupakan partai yang mendasarkan dirinya pada Marxisme, maka seharusnya ia kini telah menjadi mercusuar bagi perjuangan proletariat sedunia. Dengan sumber daya yang begitu besar, dengan mudah PKC seharusnya dapat mendirikan Internasional yang baru, yang dapat menghimpun semua kekuatan Komunis di dunia, menyokong dan membina mereka seperti halnya yang dilakukan oleh Partai Bolshevik. Tanpa pendekatan yang Internasionalis seperti kaum Bolshevik Rusia, tidak akan ada PKC pada 1921, dan tidak akan ada kemenangan Revolusi China 1949. Bila Partai Bolshevik yang sangat miskin bisa melakukan ini seabad yang lalu, dengan anggota partai yang hanya punya sepeser dua peser di kantung mereka, maka dengan miliarder yang begitu banyak di dalam tubuh PKC, kita bisa bayangkan apa yang bisa dicapai.

Namun, sesungguhnya PKC hari ini sudah mencampakkan Sosialisme dan Marxisme. Mereka bukanlah penerus Marx, Engels, dan Lenin. Celoteh Sosialisme ala Tiongkok mereka tidak lain adalah kedok untuk restorasi kapitalisme.

  1. Praktik imperialis China

Bila ada Internasionalisme dalam pemerintahan China hari ini, ini adalah internasionalisme dalam praktik kapitalis. China telah menjadi kekuatan finans kapital yang mengglobal.

Di mana-mana kita akan temui kehadiran perusahaan China dengan investasinya yang menggurita ke berbagai sektor. Di 2005, FDI (Foreign Direct Investment) dan proyek konstruksi dari China ke seluruh dunia hanya berjumlah sekitar US$19,2 miliar. Ini meningkat dengan pesat menjadi sekitar US$255,6 miliar pada 2017. Nilai investasi dan proyek konstruksi dari China selama periode 2005-2020 telah melampaui US$ 2 triliun.[7] Perusahaan-perusahaan China membangun rel kereta api, pembangkit tenaga listrik, jembatan, jalan tol, pelabuhan, dsb. Di 2019 sendiri saja, raksasa Huawei, Tencent, dan Alibaba melakukan investasi di Amerika Utara dan Eropa sebesar US$ 1,8 miliar.[8]

Tentunya setiap investor selalu mengatakan bahwa mereka beritikad baik, bahwa investasi mereka akan menguntungkan semua pihak. Tetapi pada akhirnya, semua investasi yang beroperasi di bawah logika pasar bebas dan motif profit kapitalis akan selalu bersifat menghisap. Kita tanyakan saja pada para buruh Indonesia yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang entah dari China atau joint-venture dengan perusahaan China. Apakah upah dan kondisi kerja mereka menjadi lebih baik, menjadi lebih “sosialis”?

Proyek-proyek pembangunan yang disponsori China di banyak negeri – terutama negeri-negeri berkembang di Asia dan Afrika – dilakukan bukan untuk tujuan kemanusiaan, tetapi untuk mengkonsolidasikan pengaruh ekonomi mereka dan mengamankan titik-titik strategis untuk kepentingan ekonomi mereka. China hanya meniru apa yang telah puluhan tahun dilakukan oleh negeri-negeri imperialis lewat perjanjian ekonomi, “bantuan” dan pinjaman mereka untuk negeri-negeri Dunia Ketiga. Inilah logika kapitalisme yang tak terbantahkan.

Lenin mengatakan bahwa imperialisme adalah tahapan tertinggi kapitalisme, yaitu fase dimana ekspor kapital, finans kapital, dan monopoli telah menjadi dominan. Pesatnya pertumbuhan ekspor kapital China seperti yang telah kita jabarkan di atas; menguatnya finans kapital di China, dengan Bursa Saham Shanghai yang bernilai US$4 triliun (ke-4 terbesar di dunia) dan Bursa Saham Hong Kong yang bernilai US$3,9 triliun (ke-5 terbesar di dunia); serta dominasi praktik monopoli, semisal dalam sektor telepon pintar yang lebih dari 60% pasarnya dikuasai oleh 3 besar Huawei, Oppo, dan Vivo , atau dalam sektor e-commerce dengan Alibaba sendirian yang menguasai 60% pasar; dari semua fakta ini kita hanya bisa menarik satu kesimpulan: bahwasanya pertumbuhan kapitalisme di China telah mencapai tahapan imperialisme. Proses restorasi kapitalisme di China sudah tuntas dan relasi kapitalisme telah matang.

Tentunya imperialisme China masih tertinggal jauh di belakang Amerika Serikat, tetapi alur perkembangan ke depannya sudah bisa kita tebak. Sementara AS sebagai kekuatan global tengah meredup, sang Naga China sedang terbangun. Perimbangan kekuatan imperialis dunia tengah berubah. Tetapi ini bukan alasan bagi rakyat Asia untuk berbangga. Kita masih ingat apa makna dari slogan Jepang “Asia untuk Orang Asia,” yang hanya menutupi ambisi imperialisnya.

Kontradiksi kapitalisme semakin menajam di China. Para elite PKC tidak akan bisa selamanya menutupi kontradiksi ini dengan retorika “Sosialisme ala Tiongkok.” Pertentangan kelas yang tak terdamaikan antara rakyat pekerja dan pemilik modal akan terus terdorong ke depan. Proletariat China sedang bangun dari tidur mereka dan menggali kembali sejarah perjuangan revolusioner mereka, guna menuntaskan apa yang telah mereka mulai pada Revolusi China 1949: menghapus kapitalisme dan mewujudkan Sosialisme sejati.

 

[1] Hao Qi, Power relations and the labour share of income in China, Cambridge Journal of Economics, Volume 44, Issue 3, May 2020, Pages 607–628

[2] ILO Regional Office for Asia and the Pacific Regional Economic and Social Analysis Unit (RESA) Research Note, April 2016. This research note was prepared by Cuntao Xia under the guidance and supervision of Sukti Dasgupta, and is partly drawn from Chapter 3 of China Labour Market Profile, ILO (forthcoming), authored by Malte Luebker and Cuntao Xia.

[3] Frank, Robert. “China’s Billionaires See Biggest Gains Ever, Adding More than $1.5 Trillion to Their Fortunes.” CNBC, 20 Oct. 2020, www.cnbc.com/2020/10/20/chinas-billionaires-see-biggest-gains-ever-fueled-by-ipos.html.

[4] Xie, Yu, and Yongai Jin. “Household Wealth in China.” Chinese sociological review vol. 47,3 (2015): 203-229.

[5] Flannery, Russell. “China’s 400 Richest 2020: Total Wealth Surges Amid Pandemic.” Forbes, 12 Nov. 2020, www.forbes.com/sites/russellflannery/2020/11/04/chinas-400-richest-2020--total-wealth-surges-amid-pandemic/?sh=348f3c4e3d7a.

[6] Lee, John. “China's Rich Lists Riddled With Communist Party Members.” Forbes, 14 Sep. 2011, https://www.forbes.com/2011/09/14/china-rich-lists-opinions-contributors-john-lee.html?sh=38495dfc210b

[7] China Global Investment Tracker. https://www.aei.org/china-global-investment-tracker/?ncid=txtlnkusaolp00000618

[8] Center for Strategic and International Studies. “Does China Dominate Global Investment?” https://chinapower.csis.org/china-foreign-direct-investment/