facebooklogocolour

Perjuangan untuk mencabut akar kapitalisme dan menanam benih sosialisme sejak awal adalah sebuah tugas internasional. Marx dan Engels mengumandangkan “ Buruh sedunia bersatu!” bukan karena perasaan sentimentil. Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi yang mendunia dan oleh karenanya perjuangan yang juga mendunia harus dikobarkan untuk melawannya. Walaupun untuk alasan-alasan praktis kaum buruh harus mengorganisir diri mereka sebagai sebuah kelas dengan negerinya sendiri sebagai panggung perjuangan yang segera, isi sesungguhnya dari perjuangan kelas adalah internasional.

Sejarah Internasional Keempat adalah sejarah perjuangan untuk menjaga semangat internasionalisme perjuangan kelas pekerja ketika Stalin dan klik birokrasinya justru sedang melemahkannya. Ketika Stalin sedang menghancurkan Internasional Ketiga (atau Komunis Internasional, Komintern) dan mencampakkan perjuangan untuk sosialisme sedunia, Leon Trotsky membangun, di bawah situasi yang sangat sulit, Internasional Keempat tidak hanya untuk mempertahankan revolusi proletarian yang pertama, yakni Revolusi Oktober, tetapi juga untuk menyebarkannya ke negeri-negeri lain. Internasional Keempat adalah usaha Trotsky untuk memastikan lahirnya generasi kaum Bolshevik selanjutnya yang dapat menyelesaikan apa yang telah dimulai oleh kaum Bolshevik Rusia. Yang utama bukanlah aparatus, tetapi gagasan-gagasan yang ingin dilindungi dan diteruskan ke generasi selanjutnya oleh Internasional Keempat.

Dari Pertama sampai Ketiga

Marx dan Engels, bapak sosialisme ilmiah, membentuk Internasional Pertama pada tahun 1864. Mereka menyadari bahwa kelas buruh membutuhkan sebuah organisasi internasional. Menyusul kekalahan Komune Paris pada tahun 1871 yang membuka sebuah periode reaksi, seluruh gerakan kelas pekerja menderita kemunduran besar dan Internasional Pertama tidaklah kebal dari ini. Demoralisasi, kebingungan, intrik-intrik, dan perpecahan melanda Internasional Pertama seperti wabah penyakit. Akhirnya pada tahun 1876, Dewan Umum Internasional Pertama di bawah kepemimpinan Marx dan Engels mengumumkan apa yang sudah de facto: akhir dari Internasional Pertama. Akan tetapi, ini bukan berarti kalau Marx dan Engels mencampakkan gagasan diperlukannya sebuah organisasi internasional. Hanya kondisi objektif yang sulit yang memaksa dibubarkannya Internasional Pertama, namua hanya secara organisasional. Internasional Pertama selamat sebagai sebuah ide dan program, dan pada tahun 1889 bangkit kembali di tingkatan yang lebih tinggi sebagai Internasional Kedua.

Internasional Kedua lahir di sebuah era dimana kelas buruh lebih kuat dan lebih banyak jumlahnya dibandingkan di masanya Marx. Engels, yang menjadi penasihat ideologi untuk Internasional Kedua, merasa sedih kalau almarhum Marx tidak ada di sisinya untuk menyaksikan pertumbuhan gerakan buruh internasional yang luar biasa ini. Di periode inilah tokoh-tokoh Marxis dunia yang tersohor lahir: Plekhanov, Karl Kautsky, Karl Liebknecht, Rosa Luxemburg, Vladimir Ilyich Lenin, Leon Trotsky, James Connolly, dan banyak lainnya. Fenomena ini adalah refleksi dari kristalisasi kaum proletar seiring matangnya kapitalisme.

Namun, Internasional Kedua juga lahir di era boom kapitalis. Tendensi reformisme menggerogoti Internasional Kedua dan bersembunyi di balik retorika Marxis. Di bawah pukulan Perang Dunia Pertama, Internasional Kedua retak dan hancur menjadi debu ketika banyak dari pemimpin-pemimpin reformisnya mendukung perang imperialis ini. Pada tahun 1914, Lenin dan pemimpin-pemimpin Marxis revolusioner lainnya seperti Trotsky, Luxembourg, dan Connoly mendeklarasikan matinya Internasional Kedua. Butuh sebuah revolusi, yakni Revolusi Rusia, untuk kelahiran Internasional selanjutnya, Komunis Internasional.

Komunis Internasional ada di tingkatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dua Internasional sebelumnya. Ia lahir dari revolusi proletarian yang pertama. Ia lahir ketika kapitalisme sedang memasuki periode krisis dan buruh di seluruh dunia sedang dalam ofensif, dan sosialisme sedunia ada di dalam agenda. Lenin dan kaum Bolshevik membentuk Internasional Ketiga sebagai sebuah partai internasional kelas buruh dengan satu tugas historis: revolusi sosialis sedunia. Perlunya sebuah revolusi internasional, terutama di negara-negara kapitalis maju, begitu sentral bagi Lenin dimana dia mengatakan ini pada tahun 1918:

“Dilihat dari sudut pandang sejarah dunia, tidak diragukan kalau tidak akan ada harapan bagi kemenangan akhir revolusi kita bila ia tetap sendirian, bila tidak ada gerakan revolusioner di negara-negara lain … Saya ulangi, keselamatan kita dari semua kesulitan ini datang dari revolusi di seluruh Eropa … Di bawah semua situasi yang dapat kita pikirkan, bila revolusi Jerman tidak tiba maka habislah kita.”[1]

Keterisolasian Uni Soviet akibat kekalahan revolusi-revolusi Eropa membawa kebangkitan birokrasi dan degenerasi Revolusi Oktober. Stalin, manifestasi dari birokrasi Soviet, naik ke tampuk kekuasaan dan akhirnya membubarkan Komunis Internasional pada tahun 1943 – tanpa kongres – sebagai isyarat kepada Sekutu bahwa rejim Sovietnya sudah bukan lagi ancaman bagi kekuasaan kapitalis dunia dan bahwa dia menginginkan kehidupan damai bersama dengan kapitalisme dunia. Secara negatif, ramalan Lenin terbukti: revolusi Jerman tak kunjung tiba dan Revolusi Oktober kalah sebagai akibatnya.

Asal Muasal

Internasional Keempat berasal dari faksi Oposisi Kiri yang dibentuk oleh Trotsky pada tahun 1923 untuk memerangi kebangkitan birokrasi di Uni Soviet. Tertundanya revolusi dunia membawa serta reaksi politik di tanah Oktober. Setelah menderita dua perang berturut-turut – Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Sipil (1918-1921) yang mengakibatkan kehancuran ekonomi parah – dan menyaksikan serangkaian kekalahan revolusi-revolusi di Eropa, kaum proletar Rusia menjadi letih, secara fisik dan mental. Pertemuan-pertemuan Soviet menjadi kosong karena para buruh lebih sibuk dengan perjuangan sehari-hari untuk mencari sesuap nasi. Situasi inilah – absennya buruh-buruh yang aktif di politik – yang menguatkan elemen birokrasi yang selalu ada di setiap gerakan.

Uni Soviet sedang mundur untuk sementara. Ia harus menyelesaikan masalah-masalah ekonomi dengan sendirinya sementara menunggu – dan mempersiapkan secara aktif – gelombang revolusi dunia yang akan datang, yang akan menyelamatkannya. Ini adalah garis politik umum dari Oposisi Kiri. Namun kelompok birokrasi, setelah matinya Lenin, menciptakan teori sosialisme di satu negeri: kita dapat membangun sosialisme sekarang juga di Rusia. Perlahan-lahan mereka mencampakkan gagasan revolusi dunia sebagai penyelamat Revolusi Rusia. Walaupun mereka selalu mengakhiri pidato dan tulisan mereka dengan “Buruh sedunia bersatulah!” kaum birokrasi Stalinis pada kenyataannya tidak lagi mempercayai revolusi dunia. Semua kebijakan mereka ditujukan pada kehidupan damai bersama dengan kekuatan-kekuatan kapitalis. Pembubaran Komintern tahun 1943 – walaupun bertahun-tahun sebelumnya Komintern secara efektif sudah tidak berfungsi lagi sebagai kekuatan penggalang revolusi dunia – adalah satu contoh nyata dari kesimpulan logis “sosialisme di satu negeri”. Massa yang letih – terutama kaum tani dan borjuis kecil – yang telah melalui peperangan-peperangan dan menyaksikan banyak kekalahan revolusi internasional, secara alami terpikat pada ideologi semacam itu yang menyajikan pada mereka usaha yang palling sedikit. “Mari kita bangun sosisalisme sekarang di Rusia. Buat apa repot-repot mengobarkan revolusi dunia?” Rakyat Rusia merangkul ideologi ini – walaupun secara pasif dan ragu – karena mereka sudah kelelahan. Sementara kaum birokrasi merangkul ideologi ini – dengan begitu bersemangat – karena ini akan melindungi hak-hak istimewa mereka dari ketidakpastian yang datang dari mengobarkan revolusi dunia.

Leon Trotsky, dengan faksi Oposisi Kirinya di dalam Partai Komunis Uni Soviet, mengorganisasi sebuah perjuangan melawan birokrasi dengan ide-ide politik. Setia pada tradisi Bolshevik di bawah Lenin, Oposisi Kiri tidak pernah menggunakan intrik-intrik pribadi dan manuver-manuver dangkal – yang merupakan senjatanya kaum reformis dan borjuis kecil – dalam perjuangan dan polemik ideologis. Melalui polemik politik, kaum Bolshevik sejati selalu berusaha untuk mendidik partainya dan oleh karenanya polemik harus dilakukan dengan gagasan-gagasan politik yang jelas. Akan tetapi, kaum birokrasi tidak tertarik melawan Oposisi Kiri dengan gagasan. Kamenev, setelah pecah dari Stalin, memperingatkan Trotsky: “Kau pikir Stalin sedang berpikir bagaimana membalas argumen-argumenmu? Kau keliru. Dia sedang berpikir bagaimana menghancurkanmu.”[2] Inilah mentalitas dari semua birokrasi yang dapat ditemukan di partai-partai sosial demokrasi, partai-partai buruh, serikat buruh, dan bahkan negara buruh. Yang belakangan ini punya sumber daya pemerintahan dan oleh karenanya mampu menggunakan penindasan fisik.

Sampai sekarang, kita telah berbicara mengenai pertentangan antaraTrotsky individu dan Stalin individu. Tetapi, keliru kalau kita melihat episode sejarah ini sebagai perjuangan antara dua individu. Kita harus memahami bahwa Stalin dan Trotsky hanyalah manifestasi dari kepentingan-kepentingan sosial. Stalin adalah manifestasi dari kepentingan jutaan birokrat. Birokrat-birokrat ini, yang mayoritas bukanlah Bolshevik dari periode awal, datang dari berbagai latar belakang: mantan pegawai pemerintah Tsar, mantan Menshevik, dll. Karena kurangnya orang-orang terpelajar di Rusia, mereka-mereka ini lalu bekerja di pemerintahan Uni Soviet sebagai administratur. Di periode awal Revolusi Oktober, kekuasan mereka dikendalikan oleh kediktaturan proletariat. Mereka hanya melakukan tugas-tugas administrasi di bawah kediktaturan proletariat. Namun, dengan terpukul mundurnya kaum proletar, birokrat-birokrat ini menguat dan mereka menemukan Stalin sebagai pemimpin mereka dengan kualitas-kualitas yang mereka butuhkan: seorang Bolshevik Tua sehingga ada otoritas moral, karakter kuat, organiser partai yang ulung tetapi bukan teoritisi. Namun, dapat dibilang kalau Stalin tidak ada, atau kalau dia menolak mewakili kepentingan birokrasi untuk alasan apapun, akan ada orang lain yang menggantikannya.

Di pihak lain, Leon Trotsky mewakili kekuatan proletariat. Sebagai presiden dari Soviet yang pertama tahun 1905, pemimpin Revolusi Oktober bersama Lenin, dan pembentuk Tentara Merah yang pertama – sebuah tentara proletar yang tugasnya bukan hanya mempertahankan negara buruh tetapi juga mengobarkan revolusi dunia – nasib Trotsky terikat erat dengan nasib kelas buruh. Ini juga adalah sebuah kutukan yang harus dia emban. Kendati inteleknya dan ketepatan banyak perspektifnya, kegagalan revolusi dunia dan keterisolasian kelas buruh Rusia berarti bahwa Stalin – seorang dengan intelek yang lebih rendah darinya – dapat mengalahkannya. Ketidakmampuan untuk memahami kekuatan-kekuatan sosial di balik pertentangan Trotsky-Stalin menyebabkan banyak orang mengutarakan pertanyaan-pertanyaan naif dan bahkan kesimpulan-kesimpulan yang jauh lebih naif: “Bagaimana dan mengapa Trotsky kehilangan kekuasaan?”, “Mengapa Trotsky tidak merebut kekuasaan dengan kudeta militer?”

Para sejarahwan mengeluh kalau Trotsky bukanlah seorang politisi ulung. Dengan posisinya sebagai de fakto pemimpin tertinggi Tentara Merah dia seharusnya dapat dengan mudah merebut kekuasaan dari tangan Stalin dan mencegah kebangkitan Stalinisme dan kejahatan besar yang menyusul. Para sejarahwan “Marxis” seperti Carr mengklaim kalau Trotsky: “gagal memahami kalau pertentangan ini ditentukan bukan oleh argumen-argumen tetapi oleh kontrol dan manipulasi tuas-tuas kekuasaan.”[3] Untuk pertanyaan seperti itu, Trotsky menjawab:

"Pertanyaan yang baru-baru ini muncul (dan sangatlah naif) – ‘Mengapa Trotsky pada saat itu tidak menggunakan aparatus militer untuk melawan Stalin?' … Tidak diragukan kalau saya bisa saja melakukan kudeta militer untuk menumbangkan faksinya Zinoviev, Kamenev, Stalin, dan yang lain, tanpa kesulitan apapun dan bahkan tanpa menumpahkan darah. Tetapi hasil dari kudeta semacam ini hanyalah akan mempercepat ritme birokratisasi dan Bonapartisme yang sedang dilawan oleh Oposisi Kiri. Tugas kaum Bolshevik Leninis pada esensi dasarnya adalah untuk tidak bersandar pada birokrasi militer untuk melawan birokrasi partai, tetapi bersandar pada pelopor proletariat dan melaluinya massa rakyat, dan untuk mengendalikan birokrasi ini secara keseluruhan, membersihkannya dari elemen-elemen asing, memastikan pengawasan ketat dari buruh terhadap birokrasi, dan mengembalikan kebijakan partai ke rel internasionalisme revolusioner.”[4]

Sebagai pembentuk Tentara Merah yang pertama di dunia yang mempertahankan Uni Soviet muda dari serangan dua puluh satu tentara imperialis dan Tentara Putih, Trotsky jelas adalah seorang komandan ulung yang mampu mengeksekusi strategi-strategi militer yang kompleks. Orang-orang sering melupakan kenyataan yang sederhana ini. Justru karena dia adalah seorang ahli strategi yang brilian maka dia memahami dengan sangat baik kalau kita tidak boleh mengambil jalan pintas untuk mencapai sosialisme. Orang lain dengan posisi yang sama di Tentara Merah sudah pasti akan menggunakan kudeta atau manuver militer, dengan cara pandang mekanis bahwa kalau Stalin dapat disingkirkan dengan cara apapun maka semuanya akan menjadi baik. Namun, Trotsky menjelaskan bahwa “kekuasaan bukanlah sebuah hadiah yang dimenangkan oleh orang yang paling ‘bertalenta’. Kekuasaan adalah hubungan antar individu, dan pada analisa terakhir hubungan antar kelas.”[5]

Oposisi Kiri Internasional

Kekalahan demi kekalahan menimpa Oposisi Kiri di Rusia, tetapi Trotsky tidak pernah kehilangan harapan. Sampai pemecatan dan pembuangannya pada tahun 1927, dia masih memcoba memenangkan satu dua orang. Victor Serge, kawan seperjuangannya saat itu, menggambarkan kegigihannya:

“Saya tidak pernah mengenal dia lebih besar, dan saya tidak pernah menghormati dia lebih dalam daripada ketika di apartemen-apartemen kumuh di Leningrad dan Moskow dimana, beberapa kali, saya mendengar dia berbicara selama berjam-jam untuk memenangkan segelintir buruh pabrik, dan ini setelah dia sudah menjadi satu dari dua pemimpin sah Revolusi. Dia masihlah anggota Politbiro tetapi dia tahu bahwa dia akan segera jatuh dari kekuasaan dan juga, sangat mungkin, kehilangan nyawanya. Dia berpikir bahwa sekarang adalah waktunya untuk memenangkan hati dan nurani orang satu per satu – seperti yang sudah dilakukan sebelumnya selama kekuasaan Tsar. Tiga puluh atau empat puluh wajah menghadapnya, mendengarkannya, dan saya ingat seorang perempuan yang duduk di lantai menanyakan dia berbagai pertanyaan dan mempertimbangkan jawabannya dengan serius. Ini adalah pada tahun 1927. Kami tahu bahwa kami lebih mungkin kalah daripada menang. Tetapi tetap saja perjuangan kami tidak sia-sia: bila kita tidak berjuang dan kalah dengan berani, kekalahan Revolusi akan seratus kali lebih parah.”[6]

Sementara Trotsky sedang melawan birokrasi di Rusia, embrio-embrio Oposisi Kiri lahir di luar tanah Oktober. Ini tidak bisa tidak karena pilar ideologi Oposisi Kiri adalah internasionalisme. Kaum Oposisi Kiri di luar Rusia juga menderita nasib yang sama: diburu, diserang, dan dipecat dari partai. Kelompok-kelompok Oposisi Kiri dari manca negara ini bertemu secara formal untuk pertama kalinya pada bulan April 1930. Perwakilan-perwakilan dari Prancis, Inggris, Jerman, Belgia, Spanyol, Itali, Cekoslovakia, dan Hungaria bertemu di Paris dan membentuk Oposisis Kiri Internasional sebagai sebuah faksi dari Komunis Internasional. Trotsky tidak hadir di pertemuan tersebut karena dia masih di pembuangan di Turki. Sebuah Sekretariat Internasional Sementara dibentuk dan sebuah publikasi baru, International Bulletin, mulai diterbitkan.

Diasingkan di Turki, ditolak visa di seluruh dunia, Trotsky akhirnya mendapatkan kesempatan untuk meninggalkan Turki untuk pertama kalinya setelah hampir empat tahun. Dia diundang oleh mahasiswa Sosial Demokrat Denmark di Kopenhagen untuk memberikan sebuah ceramah mengenai Revolusi Rusia pada bulan November 1932.[7] Sekitar dua lusin kaum Oposisi Kiri di Eropa mengambil kesempatan ini untuk ke Denmark, guna memberikan perlindungan pada Trotsky dan juga untuk bertemu dengannya untuk diskusi langsung mengenai masalah-masalah yang dihadapi oleh Oposisi Kiri Internasional dalam persiapan untuk pra-konferensi Internasional bulan November 1932 mendatang. Dari konsultasi yang dia lakukan dengan mereka, Trotsky menulis sebuah laporan untuk semua seksi yang berjudul “Situasi Oposisi Kiri” (16 Desember 1932)[8], diikuti oleh sebuah dokumen programatik “Oposisi Kiri, Tugas-tugas dan Metode-metodenya”[9] yang kemudian divoting pada Pra-Konferensi Internasional Februari 1933.[10]

Di dokumen progamatik ini, Trotsky menekankan kembali masalah pembelaan terhadap Uni Soviet sebagai prinsip utama Oposisi Kiri:

“Pembelaan tanpa-kondisi terhadap Uni Soviet dari imperialisme dunia adalah sebuah tugas yang begitu mendasar bagi setiap buruh revolusioner, sehingga Oposisi Kiri tidak mentolerir kebimbangan atau keraguan dalam masalah ini di antara anggota-anggotanya. Seperti sebelumnya, Oposisi Kiri akan pecah secara tegas dengan semua kelompok dan elemen yang berusaha mengambil posisi ‘netral’ antara Uni Soviet dan kapitalis dunia.”[11]

Demi prinsip fundamental ini, Trotsky putus hubungan dengan banyak kelompok dan individu, dan kebanyakan dari mereka, seperti yang Trotsky prediksikan, akhirnya menyerah pada kaum borjuis dan tidak sedikit dari mereka yang berpaling melawan komunisme. Oleh karenanya tuduhan yang dilemparkan oleh kaum Stalinis bahwa Trotsky dan Oposisi Kirinya adalah agen bayaran imperialisme dan fasisme yang ingin menghancurkan Uni Soviet adalah fitnah. Banyak anggota-anggota bawahan Partai-partai Komunis yang tidak pernah diperbolehkan membaca satupun dokumen dari Oposisi Kiri dan dibohongi oleh para pemimpin mereka.

Pemahaman ideologi dan tugas yang sama adalah satu hal yang sangat penting bagi Trotsky, karena dia sedang mempersiapkan sebuah organ perjuangan revolusioner, mengikuti tradisi Bolshevisme. Di dalam diskusi mengenai seksi Itali, Trotsky mengatakan ini mengenai kelompok Bordigist yang telah bekerja sama dengan mereka selama tiga tahun tetapi tidak ada hasil dan prospek untuk persatuan yang sejati:

“Di bawah situasi tertentu, sebuah perpecahan terbuka dan jujur, yakni sebuah perpecahan yang dilakukan dengan dasar berprinsip, menjadi perlu bukan hanya untuk membebaskan tangan kedua belah pihak tetapi juga untuk mempersiapkan kemungkinan untuk persatuan yang sejati, dan bukan fiktif, di masa depan … Walaupun kedua faksi [Oposisi Baru Itali dan Bordigist] sudah melakukan hubungan terus-menerus, tidak ada kesatuan gagasan-gagasan, yakni tidak ada hubungan interpenetrasi yang timbal balik dan saling mempengaruhi. Maka hanya ada satu kesimpulan bahwa di depan kita adalah dua kelompok yang sangat berbeda. Dalam kerja bersama, mereka hanya dapat saling melumpuhkan … Dimana diskusi kritis mengenai ide-ide tidak membuahkan hasil, dibutuhkan uji praktek. Daripada saling menghalangi, saling melumpuhkan, dan membuat semakin rumit perbedaan pendapat dengan pertentangan dan pertengkaran organisasi setiap hari, jauh lebih baik untuk berpisah sementara, secara damai dan tanpa rasa permusuhan. Dengan demikian pemeriksaan kedua garis politik yang berbeda ini dapat diserahkan pada jalannya perjuangan revolusioner.”[12]

Trotsky tidak ingin membangun sebuah organisasi yang hanya besar jumlahnya tetapi tidak erat secara ideologis. Tidak ada jalan pintas dalam membangun organisasi. Kader-kader sebuah organisasi revolusioner harus berbagi pemahaman ideologi dan tugas yang sama.

Apa hubungan antara Oposisi Kiri Internasional dan Komintern? Trotsky sangat menekankan bahwa:

“Oposisi Kiri Internasional menganggap dirinya sebagai sebuah faksi dari Komintern dan seksi-seksi nasionalnya sebagai faksi-faksi dari partai-partai Komunis nasional. Ini berarti bahwa Oposisi Kiri tidak menganggap bahwa rejim organisasional yang diciptakan oleh birokrasi Stalinis sebagai sesuatu yang final. Sebaliknya, tujuan Oposisi Kiri adalah untuk merebut kembali panji Bolshevisme dari tangan kaum birokrasi yang mencurinya dan mengembalikan Komunis Internasional ke prinsip-prinsip Marx dan Lenin … Berdiri di atas pondasi Revolusi Oktober dan Internasional Ketiga, Oposisi Kiri menolak gagasan membentuk partai-partai Komunis tandingan. Kaum birokrasi Stalinis memikul semua tanggungjawab untuk perpecahan komunisme.”[13]

Tetapi apa artinya menjadi sebuah faksi, terutama sebuah faksi yang tidak diakui yang ada di luar partai? Situasi unik ini sungguh hanyalah satu-satunya, dan hanya dapat dilahirkan dari perspektif Marxis akan perlunya bekerja di organisasi massa buruh, tidak peduli seberapa korupnya para pemimpin mereka. Trotsky mengingatkan kembali kamerad-kameradnya apa artinya menjadi faksi Komunis Internasional:

“Di seksi Inggris, pertanyaan yang didiskusikan adalah apakah kita harus membatasi diri kita pada kerja internal di dalam Partai Komunis atau kita membentuk ikatan-ikatan mandiri dengan buruh di luar Partai Komunis. Pertanyaan ini, yang dalam waktu yang berbeda telah mencuat di semua seksi-seksi, bukanlah masalah prinsip. Usaha untuk menggagaskan jenis dan karakter aktivitas kita dari konsep ‘faksi’ adalah sesuatu yang doktriner … “

“Kecenderungan dari beberapa kamerad (seperti di Prancis) untuk memahami peran faksi sedemikian rupa dimana Oposisi Kiri tidak boleh mengambil langkah di luar batasan partai komunis adalah keliru. Hubungan kita yang sesungguhnya dengan Komintern menemukan ekspresinya bukan dalam tidak melakukan aksi independen, tetapi dalam konteks dan arah aksi tersebut. Konyol kalau kita bersikap layaknya kita adalah anggota resmi Komintern. Kita harus melaksanakan kebijakan-kebijakan yang akan membuka gerbang Komintern untuki kita. Untuk ini, kita harus menjadi lebih kuat, yang tidak dapat kita capai bila kita mengikat tangan kita pada birokrasi Stalinis dengan disiplin yang artifisial dan palsu. Kita harus pergi ke buruh dimana mereka berada, kita harus pergi ke kaum muda, mengajari mereka ABC komunisme, membangun sel-sel di pabrik-pabrik dan serikat-serikat buruh. Tetapi kerja ini harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga kaum komunis dapat melihat bahwa bagi kita ini bukan untuk membangun sebuah partai yang baru, tetapi untuk menghidupkan kembali Komunis Internasional.”[14]

Inilah metode Bolshevik yang ingin diajarkan oleh Trotsky kepada para pengikutnya: fleksible dalam taktik tetapi teguh dalam prinsip. Oposisi Kiri Internasional, walaupun dipecat dari Komunis Internasional, masih menganggap dirinya sebagai faksi dari Komunis Internasional, yang merupakan organisasi massa kelas buruh, dan ia ingin mengembalikan organisasi ini ke jalan Bolshevisme. Seperti yang akan kita lihat, jalannya peristiwa setelah dia menulis kalimat-kalimat di atas akan memaksanya untuk mengumumkan matinya Komunis Internasional dan perlunya sebuah Internasional yang baru.

Di tulisan yang sama, Trotsky menjelaskan bagaimana kamerad-kamerad Belgia dengan benar telah menyerukan kaum buruh untuk memberikan suara mereka kepada kandidat-kandidat resmi Partai Komunis Belgia, walaupun kamerad-kamerad Belgia telah dipecat dari partai ini oleh kaum Stalinis. Namun, Trotsky tidak pernah menutup diri terhadap taktik lain:

“Di bawah situasi tertentu, Oposisi Kiri dapat dan harus mengedepankan kandidatnya sendiri. Tetapi ini harus dilakukan bukan karena ingin memburu “kemandirian”, tetapi karena perhubungan kekuatan-kekuatan dan harus dibuat jelas dalam kerja agitasi: bahwa ini bukan bermaksud untuk merebut kursi-kursi parlemen dari partai komunis resmi [Partai-partai Komunis dari Internasional Ketiga] tetapi untuk mengibarkan panji komunisme ketika partai tersebut tidak mampu melakukannya.”[15]

Metode Bolshevik lainnya yang coba Trotsky tanamkan di dalam organisasi muda ini adalah mengenai koran. Dia menegur seksi Jerman yang terburu-buru membawa polemik-polemik internal mereka ke lembaran koran mereka, Die Permanente Revolution:

“Wajar ketika ada perbedaan pendapat yang serius dan berlangsung lama maka sebuah diskusi terbuka akan menjadi tak terelakkan dan sangat diperlukan. Walaupun ini melemahkan organisasi secara sementara, ini jauh lebih baik daripada pertentangan organisasional di belakang layar atau “kiasan” setengah-terbuka di pers, yang tidak akan memberikan hasil kepada siapapun dan hanya akan meracuni atmosfer. Tetapi kita masih menganggap bahwa kita sama sekali tidak boleh mengambil jalan diskusi publik bila tidak ada keperluan politik yang sesungguhnya. Die Permanente Revolution adalah sebuah organ yang tujuan utamanya adalah untuk mempengaruhi lingkaran-lingkaran di luar organisasi. Diskusi dapat dan harus dibuka di sebuah organ yang ditujukan secara spesifik untuk distribusi internal (buletin, dokumen diskusi, dsbnya.). Demokrasi internal sama sekali tidak terluka dengan ini, pada saat yang sama kita tidak memberikan senjata kepada musuh-musuh kita.”[16]

Koran organisasi Bolshevik bukanlah sebuah tempat untuk perdebatan internal. Koran ini diterbitkan untuk agitasi dan propaganda, untuk menyajikan kepada massa gagasan-gagasan dan garis-garis politik yang jelas, yang telah disetujui melalui jalan demokrasi partai. Tidak seperti publikasi-publikasi borjuis kecil yang suka menyajikan gado-gado ide, koran Bolshevik terbit dengan gagasan Marxis yang koheren. Partai Bolshevik bukanlah refleksi atau cetakan biru untuk masyarakat sosialis yang ingin kita bangun. Partai adalah alat untuk membangun sosialisme, seperti halnya martil adalah alat untuk membuat meja. Tanya pekerja manapun dan dia akan mengatakan kepada kita bahwa martil bukanlah cetakan biru untuk meja. Hal yang sama juga benar untuk koran partai. Walaupun Bolshevisme berjuang untuk kebebasan pers yang sejati di dalam masyarakat, dan korannya adalah alat untuk mencapai ini, ini bukan berarti koran partai adalah tempat dimana setiap orang dapat dengan bebas mengekspresikan gagasan-gagasan mereka. Sebagai aturan umum, diskusi internal partai harus dilakukan lewat publikasi atau buletin internal.

Pengembara di Oposisi Kiri

Trotsky tidak pernah menutup-nutupi berbagai masalah yang dihadapi oleh Oposisi Kiri Internasional. Tidak seperti seksi Rusia, seksi-seksi lain di luar Rusia terdiri dari banyak“individu-individu dan kelompok-kelompok kecil, yang sebagian besar berkarakter intelektual atau semi-intelektual, tanpa pandangan politik yang jelas dan tanpa akar di kelas buruh. Mereka tidak terbiasa bekerja serius dan tanggungjawab serius, mereka tidak terikat pada apapun dan siapapun, pengembara politik, yang membawa serta sejumlah formula-formula murahan, frase-frase kritis cerdas, dan mempraktekkan intrik dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain.”[17]

Setelah kemenangan megah Revolusi Oktober, elemen-elemen borjuis kecil beramai-ramai berlari ke bawah panji komunisme. Sebagian dari elemen-elemen berwarna-warni ini memasuki aparatus Stalinis dan menjadi birokrat terkeras di dalam partai-partai komunis. Seperti yang Trotsky sering katakan, birokrasi Stalinis adalah manifestasi dari reaksi borjuis kecil dari dalam Revolusi Oktober. Sebagian lain, mereka-mereka yang kecewa, meninggalkan politik atau menemukan tempat persinggahan, walaupun hanya sementara, di bawah panji Oposisi Kiri.

Oleh karenanya, Trotsky mengatakan:

“Oposisi Kiri hanya dapat tumbuh dan menguatkan dirinya dengan membersihkan anggota-anggotanya dari elemen-elemen aksidental dan asing … elemen-elemem asing, sektarian, dan adventuris bohemian, yang tidak punya prinsip, tidak punya kesetiaan pada perjuangan, tidak punya koneksi dengan massa, tidak punya rasa tanggungjawab dan disiplin, dan oleh karenanya telah cenderung mengejar karir.”[18]

Trotsky menghabiskan banyak tahun membersihkan Oposisi Kiri dari elemen-elemen seperti itu, dengan selalu menuntut kader-kader Oposisi Kiri untuk memberikan perhatian sangat dekat pada teori Marxisme. Bukanlah sebuah kebetulan kalau banyak orang yang merasa Trotsky adalah orang yang sangat menuntut dan sangat sulit.

Dalam perjalanan yang diambil oleh Lenin dan Trotsky untuk membangun sebuah partai revolusioner, tidak sedikit kawan pengembara, intelektual dan semi-intelektual, artisan dan akademisi, yang bergabung dengan partai Bolshevik, dan bahkan lebih sedikit lagi dari mereka-mereka ini yang berdiri teguh di bawah serangan ideologi musuh. Dengan kapitalisme memasuki krisis pada tahun 1930an dan Stalinisme semakin terdiskreditkan, banyak kaum intelektual, penulis, artisan, yang bergerak ke Trotsky, dari surealis Prancis terkemuka Andre Breton, pelukis terkenal Diego Rivera dan istrinya Frida Khalo, Max Eastman, Edmund Wilson, Sidney Hook, James T. Farrel, dan banyak lagi. Disini adalah seorang pria yang berjuang melawan kapitalisme dengan kegigihan yang sama seperti dia melawan Stalinisme. Bagi kaum intelektual, yang hati nuraninya terusik oleh kebrutalan kaptialisme, tetapi sama terusiknya ketika melihat situasi Marxisme di Rusianya Stalin Trotsky adalah tempat pelarian mereka, sebuah tempat pelarian sementara seperti yang akan kita lihat. Dalam waktu yang pendek, para intelektual ini menemukan bahwa Trotsky adalah yang terkeras dari revolusioner yang terkeras. Walau terisolasi, Trotsky tidak mencari sekutu hanya untuk menambah jumlah sekutu. Dia sedang melawan semua kekuatan di dunia; fasisme, demokrasi borjuis, dan Stalinisme, melawan imperialisme dan pasifisme yang dia kutuk sebagai “pelayan imperialisme”[19], melawan agama, mistisisme, dan bahkan sekularisme borjuis. Dia menuntut semua pengikutnya untuk menjadi seperti dirinya, seorang revolusioner yang terkeras, untuk mengikuti contoh Bolshevik Tua Rusia, disiplin dan berprinsip dalam ide dan aksi. Tidaklah heran kalau para intelektual ini lalu menggonggong balik, pertama malu-malu lalu kemudian dengan galak, dan banyak dari mereka kemudian menjadi propagandis anti-Trotkisme dan Komunisme.

Kaum intelektual ini merasa kalau dengan mengikuti Trotsky mereka dapat menjadi bagian dari sejarah besar revolusi kelas buruh. Akan tetapi, ini segera berkonflik dengan cara hidup mereka, karena ide Trotsky bukanlah ide akademik tetapi sebuah tuntutan revolusioner untuk menghancurkan yang lama dan membangun yang baru. Dengan empat puluh tahun pengalaman di gerakan komunis, ini bukanlah sesuatu yang baru bagi Trotsky. Banyak orang telah meninggalkan barisan Bolshevisme sejak awal dan menyebrang. Setiap periode kemunduran, kekalahan, dan reaksi selalu membawa selori pembelot, dan semakin reaksioner sebuah periode maka semakin menyedihkan dan menjijikan pembelotan tersebut.

Kemenangan Hilter dan Akhir dari Komunis Internasional

Di Paris, pada tanggal 4-8 Februari, 1933, perwakilan dari sebelas seksi di Eropa dan Amerika berkumpul untuk pertemuan formal Oposisi Kiri Internasional yang pertama. Pertemuan ini dinamakan pra-konferensi karena ini adalah persiapan untuk konferensi penuh yang rencananya akan diadakan pada bulan Juli 1933 dengan lebih banyak delegasi dari semua seksi Oposisi Kiri Internasional. Namun ini tidak pernah terselenggarakan.

Tujuan dari pra-konferensi ini adalah organisasional dengan sedikit resolusi-resolusi. Namun sebuah dokumen programatik penting “Oposisi Kiri Internasional, Tugas-tugas dan Metode-metodenya,” yang ditulis oleh Trotsky beberapa bulan yang lalu, didiskusikan dan divoting di konferensi ini.

Walaupun bekerja di bawah situasi yang sangatlah sulit, Oposisi Kiri Internasional membuat langkah-langkah maju di seluruh dunia. Dokumen-dokumen dan artikel-artikelnya diterbitkan setidaknya dalam 15 bahasa dan ia punya 32 koran di 16 negara. Ada seksi-seksi di 9 negara dan 7 yang baru dalam tiga tahun belakangan ini.

Pra-konferensi ini terjadi seminggu setelah Hitler ditunjuk sebagai Kanselir Jerman (30 Januari, 1933). Pada saat itu, fasisme belumlah menang sepenuhnya karena Hitler belum menghancurkan organisasi-organisasi proletariat. Dokumen pra-konferensi menulis:

“Kemenangan fasisme hanya dapat terrealisasikan bila ia sudah meremukkan proletariat, melalui perang sipil atau kaum proletariat yang meninggalkan medan perang, karena dikhianati oleh Sosial Demokrasi atau kepemimpinan sentris Komunis Internasional yang menyerah akibat oportunisme mereka.”[20]

Sedihnya, skenario yang belakangan yang terjadi. Kelas buruh Jerman diremukkan tanpa perlawanan karena kebijakan sosial fasismenya Partai Komunis Jerman yang memecahkan kelas buruh Jerman. Di bawah teori sosial fasisme, kaum Stalinis mengatakan bahwa Sosial Demokrasi adalah musuh utama dan ia tidak berbeda dengan fasisme. Kaum Sosial Demokrat adalah Sosial Fasis. Bahkan mereka lebih bahaya dibandingkan fasis macam Hitler. Semua buruh reformis dan sosial demokrat harus diserang. Pertemuan-pertemuan mereka harus dibubarkan, bahkan bila ini berarti bekerja sama dengan Nazi. Thaelmann, pemimpin Partai Komunis Jerman, bahkan menciptakan slogan-slogan: “Usir kaum sosial fasis dari pekerjaan mereka di pabrik-pabrik dan serikat-serikat buruh!”, “Tendang mereka keluar dari pabrik-pabrik, sekolah-sekolah buruh, dan sekolah-sekolah profesiona.”

Namun, semuanya belum berakhir. Pra-konferensi Oposisi Kiri Internasional mengirim sebuah seruan[21] kepada kelas buruh Jerman kalau fasisme belumlah menang dan hanya bisa dikalahkan dengan sebuah front persatuan dari semua organisasi kelas buruh: Partai Komunis Jerman, Partai Sosial Demokrat, serikat-serikat buruh, dewan-dewan pabrik, dll.

Para pemimpin dari kedua partai tersebut mengabaikan seruan tersebut. Tetapi tanggungjawab terbesar jatuh di pundak Partai Komunis Jerman. Partai Sosial Demokrat Jerman dari dulu adalah agen borjuasi. Mereka hanya bisa mempertahankan basis kelas buruhnya dengan retorika sosialis, sementara di belakang layar mereka menghentikan laju gerakan kelas buruh. Mereka telah mengkhianati kelas buruh lagi dan lagi, dan penyerahan mereka terhadap fasisme adalah sesuatu yang tidak terelakkan dan tidaklah mengejutkan. Akan tetapi, Partai Komunis Jerman secara historis dibentuk untuk menuntun kaum buruh keluar dari jalan buntu sosial demokrasi. Melalui kebijakan front persatuan buruh, mereka mestinya dapat memaksa Sosial Demokrasi untuk bertempur melawan fasisme dengan tekanan dari basis buruhnya. Partai Komunis Jerman dapat memisahkan kaum buruh sosial demokrasi yang jujur dari pemimpin-pemimpin mereka yang bimbang di hadapan bahaya fasisme. Namun Partai Komunis Jerman melanjutkan kebijakan sosial fasis mereka yang menghilangkan perbedaan apapun antara fasisme dan sosial demokrasi, dan Hitler naik ke tampuk kekuasaan tanpa oposisi dari Partai Komunis. Ini mendorong Oposisi Kiri Internasional untuk memutuskan bahwa seksi Jermannya harus memutuskan hubungan dari Partai Komunis dan membangun sebuah partai revolusioner tandingan. Posisi ini dikedepankan pada Maret 1933 oleh Trotsky dalam sejumlah tulisan ke Sekretariat Internasional dari Oposisi Kiri Internasional. Tidak ada keraguan dalam prognosisnya. Paragraf pertama suratnya ke Sekretariat Internasional menjabarkan kesimpulannya dari pengkhianatan Stalinisme Jerman:

“Kepada Sekretariat Internasional. Kamerad, Stalinisme Jerman sedang ambruk sekarang, bukan karena pukulan kaum fasis tetapi dari kebusukan internalnya. Seperti seorang dokter yang tidak meninggalkan pasien yang masih bernapas, tugas kita sebelumnya adalah untuk mereformasi partai ini selama masih ada harapan. Tetapi adalah satu hal yang kriminal kalau kita mengikat diri kita pada sebuah mayat. KPD hari ini sudah menjadi mayat.”[22]

Setelah kekalahan besar di Jerman ini, Komintern masih tidak bisa mempelajari kesalahan mereka. Pada tanggal 1 April, 1933, setelah Hitler telah menjadi seorang diktatur dan mulai melarang serikat-serikat buruh dan Partai Komunis, Komite Eksekutif Komunis Internasional mengeluarkan sebuah resolusi yang menyatakan bahwa “pendirian sebuah kediktaturan fasis yang terbuka … mempercepat laju perkembangan Jerman menuju revolusi proletarian dengan menghancurkan semua ilusi massa dan membebaskan mereka dari pengaruh Sosial Demokrasi.” Begitu butanya kepemimpinan Komintern, tidak mampu memahami bahwa yang sedang dihancurkan bukanlah ilusi terhadap demokrasi borjuis tetapi kelas buruh itu sendiri. Ini akhirnya membuat Trotsky yakin bahwa Komintern sudah tidak dapat lagi diselamatkan, dan sebuah Internasional yang baru harus dibangun. Dia mengedepankan posisi ini bulan Juli 1933 (“Kita perlu membangun partai-partai komunis dan Internasional baru”[23]). Ini juga membawa perubahan nama organisasi. Oposisi Kiri Internasional sekarang menjadi Liga Komunis Internasional. Lima tahun selanjutnya dihabiskan untuk merekrut kader-kader dan melatih mereka untuk akhirnya memproklamasikan Internasional Keempat

Kongres Pembentukan Internasional Keempat

Pada tanggal 3 September, 1938, sebuah pertemuan historis diselenggarakan di sebuah desa kecil Perigny, Prancis. Berkumpul di rumah Alfred Rosme adalah 22 delegasi dari 11 negara untuk Kongres Pembentukan Internasional Keempat. Kongres ini diselenggarakan dengan sangat rahasia. Sebuah rilis dikirim, yang mengatakan bahwa pertemuan ini bertempat di Lausanne, Swiss, untuk menipu agen-agen Stalin. Kerahasiaan ini dilakukan karena ancaman GPU yang sudah memulai kampanye pembunuhan terhadap kaum Trotskis di luar Uni Soviet. Pada tahun 1938, Erwin Wolf, sekretaris Trotsky di Norwegia diculik dan dibunuh di Spanyol. Ignace Reiss, seorang pejabat tinggi GPU, dibunuh tidak lama setelah dia memutuskan untuk bergabung dengan Trotsky. Lev Sedov, anak Trotsky dan tangan kanannya, dibunuh oleh GPU pada bulan Februari 1938. Setelah Sedov, GPU mengarahkan perhatian mereka pada Rudolph Klement, sekretaris Biro Internasional Keempat yang bertanggungjawab untuk mengorganisasi Kongres Pembentukan. Dia diculik pada 12 Juli 1938, dan mayatnya yang terpotong-potong – tanpa kepala – ditemukan di sungai Seine beberapa hari kemudian. GPU jelas sedang membunuhi calon-calon pemimpin Internasional Keempat.

Namun, semua kerahasiaan ini terbukti sia-sia. Dua agen GPU hadir di Kongres tersebut: Etienne, yang juga bertanggungjawab atas pembunuhan Lev Sedov, dan Jacques Monard, yang dua tahun kemudian menghantam kapak es ke tengkorak Trotsky. Saat itu Jacques Monard datang dengan Sylvia Agelof, seorang Trotskis dari New York, sebagai kekasihnya. Dia pura-pura tidak tertarik dengan pertemuan yang sedang berlangsung dan mondar-mandir di luar ruang kongres menunggu kekasihnya. Nasib suka memainkan lelucon yang kejam. Dua agen GPU yang menginfiltrasi Kongres Pembentukan Internasional Keempat adalah pembunuh ayah dan anak.

Dari 22 delegasi, 2 dari Polandia menyatakan ketidaksetujuan mereka dengan proklamasi Internasional Keempat. Menurut mereka situasi objektif – kemunduran di gerakan buruh, periode reaksi dan kekalahan – tidaklah kondusif untuk proklamasi sebuah Internasional yang baru. Walaupun mereka setuju bahwa Internasional Kedua dan Ketiga sudah mati, terlalu dini untuk membentuk yang baru. Pemungutan suara dilakukan, dengan 19 mendukung dan 3 menentang proklamasi ini. Seksi Polandia menunjukan sikap Bolshevik yang sejati. Mereka mengikuti keputusan mayoritas dan berjanji untuk menjalankan keputusan-keputusan kongres sebaik mungkin walaupun mereka dikalahkan di pemungutan suara.

Dari Asia Tenggara, satu-satunya negeri yang terdaftar sebagai seksi Internasional Keempat adalah Indo-China (Vietnam). Ta Thu Thau, pemimpin utama kelompok Trotkis di Vietnam, dipilih in absentia sebagai anggota Komite Eksekutif perwakilan Indo-China. Pada September 1943, Ta Thu Thau juga dibunuh oleh Stalinis Vietnam. Dia berumur 39.

Trotsky sendiri dipilih sebagai anggota rahasia Komite Eksekutif, mewakili seksi Rusia. Dari notulensi Kongres tersebut, tercatat 5000 anggota tersebar di 18 negara. Seksi terbesar adalah Amerika, dengan 2500 anggota, diikuti oleh Belgia (800), Prancis (600), Polandia (350), Inggris (170), Jerman (200), Cekoslovakia (150-200), Yunani (100), Chile (100), Kuba (100), Afrika Selatan (100), Kanada (75), Australia (50), Brazil (50), Belanda (50), Spanyol (10-30) dan Meksiko (15). Ada sejumlah negara yang terdaftar tetapi tidak ada informasi berapa jumlah anggota yang mereka miliki.[24]

Untuk alasan keamanan, Kongres yang historis ini diselesaikan dalam satu hari. Mereka bahkan tidak ada waktu untuk menyanyikan Internasionale pada akhir Kongres karena terburu-buru harus menyelesaikan semua agenda dalam satu hari.

Program Transisional

Di Kongres Pembentukan ini “Program Transisional” didiskusikan dan divoting, dan dokumen ini menjadi dokumen terpenting bagi gerakan Trotskis. Ia dibuka dengan sebuah kalimat yang tegas:

“Situasi politik dunia dalam keseluruhannya digambarkan oleh sebuah krisis historis kepemimpinan proletariat.”

Tidak ada kekurangan dalam situasi objektif. Kapitalisme sudah begitu dalam krisis sampai ia harus menggunakan fasisme sebagai penyelamat akhirnya. Dimana-mana situasi revolusioner sudah matang, bahkan sudah mulai membusuk. Dengan pernyataan ini Internasional Keempat menyerukan kepada setiap kaum revolusioner yang sadar untuk mempersiapkan diri mereka, untuk mempersiapkan kepemimpinan yang mampu membawa perjuangan ini sampai ke kesimpulan akhir, untuk mempersiapkan sebuah partai Bolshevik yang mampu melakukan apa yang dicapai oleh Lenin dan Bolshevik Rusia di tanah Oktober.

Di dokumen ini, Trotsky mengformulasikan sebuah sistem tuntutan transisional. Kaum sosial demokrat telah menghancurkan jembatan antara program minimum (reforma) dan program maksimum (sosialisme). Pada kenyataannya, mereka sudah tidak punya kehendak untuk menyebrangi jembatan tersebut. Mereka puas dengan reforma-reforma di bawah kapitalisme – dan konter-reforma selama krisis kapitalisme – dan meninggalkan sosialisme untuk masa depan yang jauh. Sementara, kaum Stalinis melakukan berbagai kebijakan zig-zag, dari oportunisme ke kegilaan ultra-kiri. Tuntutan transisional berusaha untuk menjembatani buruh ke tugas historis mereka. Ia mulai dari kesadaran kelas buruh saat ini, menuju ke satu kesimpulan akhir: perebutan kekuasaan oleh proletariat. Program transisional adalah sebuah seni untuk menggunakan tuntutan sehari-hari sebagai batu pijakan ke kesadaran yang lebih tinggi, sebagai cara untuk memobilisasi massan dan melatih mereka di dalam perjuangan kelas. Tuntutan transisional oleh karenanya terus berubah dan tidak terukir di atas batu. Apa yang satu hari adalah tuntutan transisional dapat di waktu yang lain menjadi tuntutan yang menarik mundur massa atau bahkan terlalu di depan massa.

Trotskisme di Indonesia

Tan Malaka, yang sering dicap sebagai seorang Trotskis oleh kaum Stalinis di Indonesia, tidak pernah berhubungan dengan Trotsky dan Internasional Keempat. Akan tetapi, dalam berbagai masalah fundamental Tan Malaka tiba pada kesimpulan yang sama seperti Leon Trotsky. Kenyataan ini yang membuatnya memperoleh cap Trotskis.

Di banyak tulisannya, dia tidak pernah secara tegas memihak Trotsky atau Stalin. Satu-satunya tulisan penting dimana dia berbicara mengenai Trotskisme adalah “Thesis”. Di sana dia hanya berusaha membuktikan bahwa menurut definisi kaum Stalinis garis politik dia tidak ada kesamaan dengan Trotskisme:

“Dalam buku resmi ‘History of the Communist Party of the Soviet Union (Bolsheviks)’, disahkan oleh CC Partai Komunis Uni Soviet (Bolsheviks) 1938, salah satu sifat ‘Trotskyisme’ yang terpenting dimajukan ialah seperti tercantum dalam muka 288-289 seperti berikut: ‘Kemudian ada lagi capitalors (penyerah) tulen, seperti Trotsky, Radek, Zinoviev, Sokolnikov, Kamenev, Shlyapikov, Bhukarin, Rykov, dll. mereka yang tak percaya akan kemungkinan kemajuan sosialisme di dalam negeri kita, bertekuk lutut terhadap "kemahakuasanya" kapitalisme dan dalam percobaan mereka memperkuat kedudukan kapitalisme Soviet Rusia, menuntut pemberian konsesi (concession) yang berakibat jauh sekali kepada kapital swasta, baik kapital dalam ataupun di luar negeri, dan menuntut penyerahan beberapa kunci kekuasaan pemerintah Soviet dalam lapangan ekonomi kepada para kapitalis swasta, yang di belakang ini akan diterima sebagai concessionaries (penyewa) atau sebagai rekan (partner) dari Negara (Soviet) dalam Perseroan Campuran (Mixed Joint Stock Companies). Kedua golongan di atas tak bersangkutan dengan Marxisme dan Leninisme."

“Halaman 262 kitab tersebut: ‘Mereka (Trotsky CS) mengusulkan supaya kita menyerahkan diri kita ke bawah belas kasihannya kaum kapitalis asing, menyerahkan kepada mereka penyewaan (concessions) cabang industri yang penting sekali buat negara Soviet. Mereka mengusulkan supaya kita membayar hutangnya Tsar, yang sudah dibatalkan oleh Revolusi Oktober. Partai Komunis Rusia men-cap usulan menyerah ini sebagai satu Penghianatan.’”

“Teranglah sudah bahwa satu dua perkara yang penting dalam perbedaan Stalinisme dan Trotskyisme, menurut buku yang baru saja kami peroleh ini, ialah perkara sikap Soviet Rusia dan Partai Komunis Rusia terhadap 1) Hutang pemerintah Tsar dan 2) kapitalisme Asing di Rusia. Kedua hal itu ditolak oleh pihak Stalin, dan diakui oleh pihak Trotsky.”

“Bukankah pasal 6 dan 7 dalam program minimum itu [PARI] menyita dan menolak kapitalisme asing?”

Tentang hutang "Hindia Belanda" menurut PARI sudahlah tentu pula mesti dibayar oleh Belanda sendiri. Republik Indonesia berhak dan wajib menolak hutang ‘Hindia Belanda’ …”

“PARI nyata memberi jawaban yang cocok dengan "sikap resminya" Partai Komunis di Rusia di bawah pimpinan Joseph Stalin. Mereka yang mengindahkan tuduhan "Trotskyist" terhadap PARI atau pada siapa saja hendaknya dengan catatan di atas ini bisa memeriksa benar-salahnya tuduhan itu.”[25] (Penekanan ditambahkan penulis)

Jelas dari tulisan di atas kalau Tan Malaka tidak pernah membaca satupun tulisan Trotsky atau Oposisi Kiri Internasional. Bahkan, tampaknya dia mencoba untuk menekankan kalau ada ketidak-konsistenan dari pihak Stalinis. Definisi Trotskisme mereka tidak cocok dengan tuduhan mereka.

Terlebih lagi, setia pada sikap Bolshevik, Tan Malaka tidak memihak sampai dia dapat mempelajari posisi kedua pihak, tidak seperti banyak anggota PKI Stalinis yang secara buta mengadopsi sikap anti-Trotsky tanpa membaca apapun dari Trotsky. Kata-kata dari adiknya D.N. Aidit, Sobron, mengilustrasikan bagaimana banyak anggota PKI yang diajarkan untuk memusuhi Trotsky tanpa memahaminya:

“Dia [Asahan] sudah menamatkan bacaan dari Trotsky tentang Riwayat Hidup STALIN, Tulisan ini setebal 900 halaman. Menurut dia - sangat menarik. Saya sendiri tidak tahu dan tidak memahami benar kenapa dulu kami diajarkan begitu sangat anti-Trotsky. ... Padahal sebenarnya saya tidak tahu dan tidak mengerti benar apa paham dan ideologi Trotsky-isme itu.”[26]

Sebagai seorang “Bolshevik Tua” di Indonesia, Tan Malaka tahu betul peran kepemimpinan yang dimainkan Trotsky di Revolusi Oktober. Trotsky adalah pemimpin Revolusi Oktober bersama Lenin. Selama periode awal PKI pada awal tahun 1920an, nama Lenin dan Trotsky adalah seperti dwi-tunggal Revolusi Oktober. Pada Kongres PKI bulan Desember 1921, di atas panggung adalah foto Lenin dan Trotsky, bukan Lenin dan Stalin.[27] Tan Malaka juga tinggal di Uni Soviet dari tahun 1922-23, ketika rejim Soviet masihlah relatif sehat dan dia dapat melihat dengan mata sendiri bagaimana Trotsky sangat dihormati di antara kaum buruh. Walaupun dia tidak pernah bertemu dengan Trotsky secara pribadi, dia sudah melihatnya berbicara di demo-demo.[28] Ini memainkan peran dalam pendirian Tan Malaka yang netral terhadap perseteruan Stalin-Trotsky. Dia tidak bisa begitu saja menelan bulat-bulat tuduhan-tuduhan kalau Trotsky – pemimpin Revolusi Oktober yang sangat dihormati – adalah seorang konter revolusioner yang berkonspirasi dengan kaum fasis dan imperialis dan ingin membawa kapitalisme kembali ke Rusia, tidak tanpa membaca tulisan-tulisan Trotsky, sesuatu yang dia tak punya kesempatan untuk lakukan.

Satu-satunya kelompok yang secara resmi bergabung dengan Internasional Keempat adalah Acoma (Angkatan Comunis Muda) yang dipimpin Ibnu Parna. Acoma dibentuk pada tahun 1946 dari sebuah sekelompok pemuda komunis. Pada pemilu tahun 1955, mereka mendapatkan satu kursi parlemen yang diduduki oleh Ibnu Parna. Pada awal tahun 1950an mereka mulai berhubungan dengan Sekretariat Internasional dari Internasional Keempat dan pada tahun 1959 mereka berafiliasi. Sedikit sekali catatan mengenai hubungan antara Acoma dan Internasional Keempat. Internasional Keempat kehilangan kontak setelah peristiwa 1965 dimana Ibnu Parna mati terbunuh.

Setelah Itu

Bagi Leon Trotsky, perjuangannya untuk menyelamattkan Revolusi Oktober adalah lebih penting dibandingkan peran-perannya pada tahun 1917 dan Perang Sipil. Dengan Lenin, dia adalah bidan Revolusi Oktober. Dia memimpin Dewan Militer Revolusioner yang bertanggungjawab menyerang Istana Musim Dingin. Mengambil kepemimpinan Tentara Merah yang pertama di dalam sejarah manusia, dia kemudian menyelamatkan Uni Soviet yang masih muda ini dari serangan Tentara Putih dan imperialis. Dia kemudian diberi tugas lagi untuk menyelamatkan Revolusi Oktober, tetapi sekarang dari musuh yang ada di dalam, yakni birokrasi. Trotsky menulis di buku hariannya bagaimana dia melihat perannya selama periode tersebut:

“Bila saya tidak ada pada tahun 1917 di Petersburg, Revolusi Oktober masih tetap akan terjadi – dengan syarat Lenin hadir dan memimpin. Bila Lenin dan saya tidak ada di Petersburg, tidak akan ada Revolusi Oktober; kepemimpinan Partai Bolshevik akan mencegah ini – dan ini saya tidak ragu sama sekali! Bila Lenin tidak ada di Petersburg, saya ragu kalau saya bisa mengalahkan perlawanan dari para pemimpin Bolshevik … Tetapi saya ulangi lagi, dengan kehadiran Lenin Revolusi Oktober meraih kemenangan …”

“Oleh karenanya saya tidak bisa berbicara mengenai ‘tak-tergantikannya’ kerja saya, bahkan di periode 1917 sampai 1921. Tetapi sekarang kerja saya ‘tak-tergantikan’ dalam arti sepenuh-penuhnya. Tidak ada kesombongan di dalam klaim ini. Keruntuhan kedua Internasional telah mengedepankan sebuah masalah yang tak seorang pemimpin pun dari kedua Internasional tersebut yang punya kemampuan untuk menyelesaikannya. Perjalanan nasib saya telah membuat saya harus menghadapi masalah ini dan memberikan saya pengalaman penting untuk menyelesaikannya. Tidak ada seorangpun selain saya yang dapat mempersenjatai generasi baru dengan metode revolusioner untuk menghadapi para pemimpin Internasional Kedua dan Ketiga. … halangan terbesar saya adalah umur saya yang lima puluh lima tahun! Saya membutuhkan setidaknya lima tahun lagi untuk bisa memastikan generasi penerus.”[29]

Dia diberikan lima tahunnya sebelum agen Stalin mampu membunuhnya. Akan tetapi, Trotsky keliru berpikir kalau dia dapat memastikan generasi penerus Bolshevik dalam lima tahun. Pecahnya Perang Dunia Kedua menciptakan sebuah situasi yang jauh lebih rumit yang masih membutuhkan kepemimpinannya. Dengan absennya dia – dan juga kampanye pembunuhan yang merampas kader-kader muda menjanjikan dari Oposisi Kiri, termasuk satu-satunya anak laki-laki Trotsky yang tersisa, Lev Sedov – kebanyakan kader Internasional Keempat tidak mampu membangun organisasi ini.

Setelah kematian Trotsky, Internasional Keempat mengalami banyak perpecahan. Di satu pihak, ada situasi objektif yang sulit setelah Perang Dunia Kedua. Boom kapitalisme di Eropa setelah peperangan, yang mungkin karena kehancuran total Eropa, berarti menguatnya reformisme di Eropa Barat. Pada saat yang sama, Stalinisme menguat karena kemenangannya atas Nazi Jerman. Bersama-sama, Stalinisme dan reformise mengkhianati gelombang revolusi yang menyapu Eropa dan banyak negara-negara koloni. Di lain pihak, ada faktor subjektif. Pemimpin-pemimpin Internasional Keempat, James Cannon, Joseph Hansen, Ernest Mandel, Tony Cliff, dan banyak lainnya, tidak mampu beradaptasi pada situasi yang baru. Banyak yang mencari jalan pintas, berayun-ayun dari oportunisme ke ultra-kiri-isme. Namun situasi ini tidaklah unik bagi Internasional Keempat. Banyak kelompok kiri yang juga memasuki krisis ideologi dan organisasi berkepanjangan setelah akhir Perang Dunia Kedua.

Walaupun Internasional Keempat, sebagai sebuah organisasi, tidaklah menjadi apa yang Trotsky harapkan, melalui tulisan-tulisannya dia telah – dan masih – mempersenjatai generasi pejuang selanjutnya. Tugas historis Trotskisme adalah menjaga nyala api Marxisme dan Bolshevisme di tengah badai reaksioner. Internasional yang selanjutnya akan lahir kembali untuk mengobarkan api revolusi sosialis sedunia, dan ketika ini terjadi ia akan ada di tingkatan yang lebih tinggi karena ia punya pengalaman – pelajaran-pelajaran perjuangan dan kekalahan – dari empat Internasional sebelumnya.

 


[1] V.I. Lenin, “Political Report of the Central Committee,”  Extraordinary Seventh Congress of the Russian Communist Party (Bolshevik), March 6-8, 1910. Marxists Internet Archive. <http://www.marxists.org/archive/lenin/works/1918/7thcong/01.htm>

[2] Leon Trotsky, Trotsky’s Diary in Exile, 1935

[3] E.H. Carr, Socialism in One Country, vol. 2 (London: Macmillan, 1959) 34.

[4] Leon Trotsky, “How did Stalin Defeat the Opposition?” November 12, 1935, Writings of Leon Trotsky [1935-36] (New York: Pathfinder Press, 1977) 175-176.

[5] Trotsky, “How did Stalin Defeat the Opposition?” [1935-1936] 177.

[6] Victor Serge, The Life and Death of Leon Trotsky (New York: Basic Books, 1975).

[7] Leon Trotsky, “In Defence of October,” A speech delivered in Copenhagen, Denmark, in November 1932. Leon Marxists Internet Archive. <http://www.marxists.org/archive/trotsky/1932/11/oct.htm>

[8] Leon Trotsky, “On the State of the Left Opposition,” December 16, 1932, Writings of Leon Trotsky [1932-33] (New York: Pathfinder Press, 1972) 24.

[9] Leon Trotsky, “The International Left Opposition, Its Tasks and Methods,” December 1932, Writings of Leon Trotsky [1932-33] (New York: Pathfinder Press, 1972) 48.

[10] “The International Left Opposition, Its Tasks and Methods,” Documents of the Fourth International (New York: Pathfinder Press, 1973) 19.

[11] Trotsky, “The International Left Opposition, Its Tasks and Methods,” [1932-33] 50.

[12] Trotsky, “On the State of the Left Opposition,” [1932-1933] 27-28.

[13] Trotsky, “The International Left Opposition, Its Tasks and Methods,” [1932-33] 54.

[14] Trotsky, “On the State of the Left Opposition,” [1932-1933] 30.

[15] Trotsky, “On the State of the Left Opposition,” [1932-1933] 31.

[16] Trotsky, “On the State of the Left Opposition,” [1932-1933] 32.

[17] Trotsky, “On the State of the Left Opposition,” [1932-1933] 33.

[18] Trotsky, “The International Left Opposition, Its Tasks and Methods,” [1932-33] 55-56.

[19] Leon Trotsky, “Pacifism as the Servant of Imperialism,” 1917, Marxists Internet Archive <http://www.marxists.org/archive/trotsky/1917/xx/pacifism.htm>.

[20] Trotsky, “The International Left Opposition, Its Tasks and Methods,” Documents 36.

[21] “Appeal of the Preconference of the ILO to all Members of the Communist Party of Germany, to all Social Democratic Workers, to the entire proletariat of Germany,” Documents of the Fourth International (New York: Pathfinder Press, 1973) 44.

[22] Leon Trotsky, “KPD or New Party? (I),” March 12, 1933, The Writings of Leon Trotsky [1932-33] (New York: Pathfinder Press, 1972) 137.

[23] Leon Trotsky, “It is necessary to build communist parties and an International anew,” July 15, 1933, Writings of Leon Trotsky [1932-33] (New York: Pathfinder Press, 1972) 304.

[24] “Minutes of the Founding Conference of the Fourth International,” Documents of the Fourth International (New York: Pathfinder Press, 1973) 289.

[25] Tan Malaka, “Thesis,” 1946, Marxists Internet Archive <http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1946-Thesis.htm>.

[26] Sobron Aidit, Kisah Serba-Serbi (Omong-omong dengan Asahan Alham) 11 September, 2006.

[27] Harry A. Poeze, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1897-1925 (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1988) 207.

[28] Poeze 311.

[29] Leon Trotsky, Trotsky’s Diary in Exile, 1935 (London: Faber and Faber, 1958) 53-54.