facebooklogocolour

Lenin and Trotsky Public Domain PD 1923Artikel utama dalam edisi Jurnal Dialektika kali ini (Edisi 3, Agustus 2022) mengupas pertanyaan yang tentunya ada di benak cukup banyak orang belakangan ini. Bila apa yang kalian katakan benar, dan sistem kapitalis ada dalam krisis yang dalam, maka mengapa sampai hari ini belum ada revolusi sosialis?

Tentu saja mudah untuk mengabaikan pertanyaan seperti itu sebagai sesuatu yang naif. Namun pertanyaan ini mengajukan masalah teori yang penting, yang patut dijawab. Semoga artikel tersebut dapat memberikan penjelasan teori, separsial apapun.

Untuk menggarisbawahi tesis utama artikel ini, kami menerbitkan ulang karya Trotsky, Kelas, Partai, dan Kepemimpinan, yang ditulisnya pada 1940 untuk menjawab kaum pseudo-Marxis yang mencoba menyalahkan “ketidakdewasaan” kelas buruh atas kekalahan Revolusi Spanyol. Kami juga menerbitkan ulang surat Trotsky kepada kaum Trotskis Amerika yang ditulisnya pada 1929, di mana dia menguraikan dasar-dasar pembangunan partai.

Tetapi, sebelum turun cetak, muncul sebuah masalah yang paling penting, sebuah masalah hidup-dan-mati yang dengan satu cara atau lainnya mempengaruhi semua manusia di muka bumi ini: perang dan perdamaian.

Perang dan Perdamaian

Sama sekali tidak ada gunanya mencoba menafsir sejarah dari sudut pandang moralitas yang abstrak. Ini sama saja mencoba menundukkan hukum seleksi alam dengan prinsip vegetarianisme.

Suka atau tidak, semua sejarah menunjukkan bahwa semua masalah yang serius pada akhirnya diselesaikan dengan kekuatan senjata. Fakta elementer ini telah dipahami sejak dulu kala oleh filsuf Heraclitus, yang menulis:

“Perang adalah bapak dari segalanya, dan raja dari segalanya. Perang membuat beberapa orang menjadi dewa, yang lainnya jadi manusia; perang membuat beberapa orang budak, yang lainnya bebas.”

Prinsip yang persis sama berlaku untuk perang antar-kelas, seperti halnya perang antar-bangsa. Kita harus mengingat ini baik-baik. Siapapun yang menyangkal ini sesungguhnya mengabaikan fakta dan menipu diri mereka sendiri dan orang lain.

Tidak ada yang namanya “perang kemanusiaan”. Perang, bagaimanapun, memiliki tujuan membunuh. Tidak ada seorangpun yang bisa menghindari ini. Ini tidak menyenangkan. Tetapi bagaimanapun ini adalah fakta.

Carl von Clausewitz, yang bisa dibilang adalah ahli strategi militer paling besar sepanjang masa (dan juga murid Hegel), memahami dialektika perang dengan sangat baik. Dia menjelaskan tujuan perang dengan sangat ringkas, seperti berikut:

“Pertempuran adalah tindakan militer yang utama ... Musuh yang saling bertemu berarti bertempur. Tujuan pertempuran adalah menghancurkan atau mengalahkan musuh."

“Apa yang kami maksud dengan kekalahan musuh? Sederhananya, hancurnya kekuatan mereka, entah karena tewas, terluka, atau lainnya – entah sepenuhnya atau cukup untuk membuatnya berhenti bertempur ... Kehancuran musuh secara total atau parsial harus dianggap sebagai satu-satunya tujuan dari semua pertempuran ... Pembinasaan langsung kekuatan musuh harus selalu menjadi pertimbangan dominan.”

Jadi, ini cukup jelas bukan? Tujuan perang adalah menghancurkan kekuatan musuh, dan dengan demikian membuatnya tidak mungkin lagi untuk melawan dan terpaksa menerima syarat-syarat apapun yang dipaksakan oleh pihak yang menang.

Sebelum meluncurkan perang, kekuatan-kekuatan yang bertikai menciptakan berbagai argumen yang tujuannya adalah untuk menyatukan massa di belakang kereta perang, untuk meyakinkan mereka dengan beragam dusta dan tipu daya bahwa "kita adalah pihak korban”, “kebenaran dan keadilan ada di sisi kita” (begitu juga Tuhan, yang, dengan ajaibnya, selalu ada di sisi semua pihak yang bertikai.)

Oleh karenanya, mereka harus selalu membuktikan bahwa perang ini dimulai oleh pihak musuh. Ini tidak terlalu sulit. Bila tidak ada insiden untuk membenarkan perang, ini selalu bisa diciptakan. Dan kelas penguasa memiliki di tangannya mesin propaganda yang besar dan kuat, yang segera dimobilisasi demi tujuan itu.

Pada kenyataannya, masalah siapa yang melepaskan tembakan pertama, siapa yang menginvasi siapa, dsb., adalah masalah sepele, yang tidak memberitahu kita apapun mengenai penyebab sesungguhnya konflik tersebut. Demikian juga kisah-kisah mengerikan yang terus mengalir mengenai kekejaman yang katanya dilakukan oleh musuh yang barbar, entah kisah yang nyata atau fiksi.

Fakta terutama telah dijelaskan oleh Clausewitz, saat dia menunjukkan bahwa perang hanyalah kelanjutan dari politik dengan cara lain.

Perang hanyalah kelanjutan dari kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh negeri-negeri yang bertikai sebelum tembakan pertama dilepaskan. Dan ini ditentukan, bukan oleh pertimbangan moralistik, bukan oleh “kepentingan nasional”, apalagi kepentingan membela demokrasi, hak bangsa-bangsa kecil, mempertahankan perdamaian dunia, atau frase-frase sinis lainnya yang biasanya digunakan untuk membenarkan tujuan perang yang sesungguhnya. Semua kata-kata yang manis ini hanya untuk menutupi kepentingan kaum bankir dan kapitalis, yang merupakan alasan sesungguhnya di belakang perang-perang kapitalis.

Satu-satunya perbedaan antara perdamaian dan perang adalah bahwa dalam perang kepentingan kelas penguasa terekspresikan dengan cara yang lebih vulgar dan brutal daripada sebelumnya.

Konflik Ukraina telah menjadi pelajaran yang berguna, yang mengekspos orang-orang yang mengaku Marxis tetapi sesungguhnya telah mencampakkan posisi kelas internasionalis dan bergabung dengan propaganda imperialis yang memekakkan telinga.

Sungguh sebuah pemandangan yang luar biasa, ketika orang-orang yang menggambarkan diri mereka sebagai “kaum kiri” dan (jangan tertawa) “kaum Marxis” segera jatuh ke perangkap menelan mentah-mentah propaganda dusta dan munafik kelas penguasa.

Tetapi kaum Marxis tidak memiliki satu kebijakan untuk masa damai, dan satu kebijakan lainnya, yang sepenuhnya berbeda, ketika perang meletus. Di tengah arus sampah yang tak henti-henti ini, hanya IMT yang tidak terseret tenggelam.

Analisis yang jernih dan terang, yang disediakan oleh marxist.com, tidak ada duanya. Analisis ini menyediakan sebuah titik referensi yang kokoh bagi kaum buruh dan kaum muda yang sadar kelas di seluruh dunia, yang tengah berjuang untuk mempertahankan panji internasionalisme proletariat revolusioner yang bersih.

Slogan kita adalah slogannya Vladimir Ilyich Lenin: “Musuh utamanya ada di rumah sendiri!”

Bergabunglah dengan Perhimpunan Sosialis Revolusioner!

Form Pendaftaran

Form by ChronoForms - ChronoEngine.com